Tips Mengatasi Raspberry Pi 4B Gagal Menyala

Tentu rasanya nyebelin banget saat Raspberry Pi 4B yang telah ditunggun-tunggu lama itu datang dan Anda sudah menyiapkan segalanya, namun kemudian dia tidak mau menyala! Saya juga sempat mengalaminya loh! Kemudian saya browsing di internet dan menemukan beberapa pengecekan dan langkah yang bisa dilakukan. Syukurlah kemudian board komputer murah meriah itu mau menyala! Senangnyaaa…

Video ini tentang beberapa pengecekan tersebut. Semoga video ini bermanfaat ya, Teman2…

Baru : Raspberry Pi 4 dengan Harga Tetap $35

Kabar gembira bagi pengguna, pecinta, penggemar, hobbyist Raspberry Pi karena sekarang sudah tersedia Raspberry Pi 4 Model B. Model baru ini memiliki beberapa kelebihan dibanding versi 3B atau pun 3B+, yaitu meliputi:

  • CPU 1.5GHz quad-core 64-bit ARM Cortex-A72 dengan peningkatan kinerja sampai 3x
  • Pilihan RAM 1GB, 2GB atau 4GB dengan tipe LPDDR4 yang dapat meningkatkan bandwidth hingga 3x
  • Gigabit ethernet dengan kecepatan penuh
  • Dual-band 802.11ac wireless networking
  • Bluetooth 5.0
  • Dua port USB 3.0 yang lebih cepat dan masih ada dua port USB 2.0
  • Mendukung 2 monitor resolusi 4K sekaligus dengan disediakannya 2 port mini HDMI
  • VideoCore VI graphics, mendukung OpenGL ES 3.x
  • 4Kp60 hardware decode of HEVC video
  • Menggunakan konektor daya USB-C yang dapat menambah extra power dengan kemampuan penambahan aliran arus listrik 500mA sehingga secara total bisa memberikan downstream ke piranti USB full 1.2A

Dengan peningkatan-peningkatan di atas, RPi 4 tetap kompatibel dengan RPi versi sebelumnya. Walau pun peningkatan di atas termasuk luar biasa, namun RPi 4 tetap mempertahankan harga dasarnya tetap $35 untuk opsi 1 GB RAM. Sedangkan untuk opsi 2GB dan 4GB harganya $45 dan $55 yang mana masih terhitung sangat terjangkau.

Beberapa aksesoris juga sudah tersedia untuk dijual terpisah, yaitu:

  • Case Raspberry Pi 4 dengan lubang-lubang port yang sesuai dengan bentuk baru versi 4
  • Power Supply 5V 3A dengan konektor USB-C
  • Converter USB micro-B ke USB-C jika pengguna ingin mempertahankan power supply resmi model lama
  • Kabel micro HDMI
  • Desktop Kit yang terdiri dari Raspberry Pi 4 dengan RAM 4GB, case resmi, PSU resmi, mouse+keyboard resmi, sepasang kabel HDMI, buku panduan pemula dan pre-installed microSD 32GB

Opini Pribadi

Dengan peningkatan-peningkatan yang luar biasa ini namun dengan harga tetap rendah, kita harus mengapresiasi Yayasan Raspberry Pi setinggi-tingginya. Bagi saya yang pernah mengalami masa awal-awal komputer hingga kini sudah semakin canggih (dan semakin mahal), mendapatkan sebuah Raspberry Pi itu suatu berkah.

Namun di sisi lain, saya merasa Raspberry Pi ini cenderung semakin lebih desktop PC dari pada sebuah board untuk tinkering (ngoprek). Ya memang dari awal RPi ini adalah SBC (single board computer) yang bisa digunakan juga untuk tinkering seperti layaknya Arduino yang memang sejak awal adalah MCU (microcontroller unit).

Hanya saja sebenarnya saya berharap ada penambahan berikut ini di RPi4:

  • Penambahan jumlah GPIO sehingga kita bisa ngoprek RPi dan menyambungkannya ke lebih banyak piranti tanpa perlu menambahkan multiplexer
  • Penambahan fitur ADC sehingga kita bisa menambahkan sensor-sensor analog yang secara harga lebih murah dari pada sensor digital
  • Sebenarnya Raspberry Pi sudah memiliki PWM tapi hanya 1 pin sehingga alangkah lebih baik jika pin PWM atau DAC bisa ditambahkan
  • Proteksi arus berlebih dan korslet sehingga tidak merusak RPi4

Walau pun demikian, peningkatan2 yg ada di versi 4 ini sudah sangat luar biasa dan membuat para penggemar Raspberry Pi (termasuk saya) sangat bersemangat!

Sumber:
~ Raspberry Pi 4 on sale now from $35

Desain Radio Kotak (Belajar 3D Design)

Ya saya memang masih terobsesi dengan radio. Tidak hanya berkutat di elektroniknya, saya juga mencoba membuat desain casing yang menarik bagi radio. Soalnya bagi saya, radio yang cantik itu bisa juga jadi hiasan meja yang unik.

Nah, dalam rangka belajar desain dengan Fusion 360, saya pun mencoba mendesain box/casing untuk radio yang tempo hari sempat saya buat elektroniknya. Di bawah ini adalah animasi hasil render desain tersebut.

Sesuai dengan desain elektronik yang tempo hari saya buat (versi 2), radio ini cuma punya 3 antarmuka, sebuah LCD 16×2 yang menampilkan frekuensi radio dan waktu, sebuah Rotary Switch untuk mengubah mode volume atau pencari frekuensi dan sebuah speaker untuk menyuarakan sinyal radio yang ditangkap.

Pada panel terdapat lubang yang sesuai dengan dimensi LCD 16×2 dan lubang bundar untuk knob rotary switch. Sedangkan untuk speaker hanya 2 garis memanjang. Mengapa hanya 2 garis memanjang sedangkan seharusnya speaker itu bundar dan besar? Karena saya membayangkan speaker tersebut dipasang di dalam box dengan menghadap ke bawah. 2 garis lubang itu hanya untuk mengeluarkan pantulan suara dari speaker.

Apakah suaranya akan bagus? Nah ini yang perlu dibuktikan apakah desain ini efektif atau tidak. Karena dengan desain sebelumnya, yang mana speaker langsung terekspos dan ditenagai oleh amplifier kelas D 2×2 watt ternyata suaranya kurang mumpuni. Apalagi karena casing dari bahan plastik. Beda ceritanya ketika saya membuat casing dari kardus bekas yang ternyata punya akustik lebih bagus dari pada plastik.

Jadi saya membayangkan speaker dipasang di dalam casing dan menghadap ke bawah. Di panel bawah dilapis kardus untuk sedikit meredam frekuensi tinggi sehingga yang terlepas ke grill depan adalah suara yang sudah tersaring. Entah benar atau tidak, tentu perlu pembuktian. Jadi ya sepertinya saya perlu segera membeli printer 3D, hahaha…

BTW, karena baru belajar, desain radio di Fusion 360 di atas tentu masih sangat sederhana. Mungkin nanti akan dibuat versi lebih kompleks setelah banyak belajar desain.

Di bawah ini adalah foto tampilan LCD 16×2 dari postingan sebelumnya.

Eldario v2

Begitulah kira-kira radio yang never ending ini, hehehe… Sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Upgrade Head Unit Mobil dengan TV Digital

Mobil saya belum kekinian, tidak ada display LCD atau pun TV. Tadinya mau upgrade ke head unit yang sudah ada display LCD dan TV tapi ternyata mahal. Apalagi yang support TV Digital, harganya mahal banget Gan! Kalau maksa beli yang murahan takutnya malah kecewa, hahaha…

Jadi saya pun memutuskan mengadopsi Raspberry Pi Zero W + DVB TV Hat yang saya oprek tempo hari plus iPad sebagai display TV-nya. Berikut video-nya :

Tadinya saya mau memanfaatkan Raspberry Pi 3B ditambah LCD Display 3.5″ (lihat di sini) tapi ternyata display segitu kekecilan. Memang lebih baik pakai iPad yang 9.7″. Jelas lebih legaan. Ditambah iPad punya kemampuan dihubungkan ke head unit bawaan mobil untuk amplifikasinya. Dengan integrasi ke head unit mobil, suaranya jadi bagus dan keras.

Sebenarnya saya mau membuat setup ini permanen. Tapi ternyata Raspberry Pi perlu pasokan voltase yang stabil. Charger mobil saya seringkali tidak stabil sehingga membuat RPi kadang tidak mau nyala. Solusi sementara adalah dengan menghubungkan Raspberry Pi ke USB-nya head unit yang relatif lebih stabil. Tapi berarti output suara dari iPad tidak bisa masuk ke head unit.

Untuk mengatasi masalah stabilitas voltase ini ada 2 opsi, yaitu membeli charger mobil yang voltasenya stabil atau membuat sendiri regulator tegangan. Sepertinya opsi ke-2 lebih masuk akal.

Kemarin mencoba juga mengganti iPad dengan hape Samsung A7 yang display-nya walau pun lebih kecil tapi masih cukup nyaman. Sayangnya output audio dari A7 tidak bisa masuk ke headunit standard bawaan mobil. Kalau iPad dan iPhone suaranya bisa dikeluarkan via kabel lightning ke USB. Kalau Samsung A7 dan Xiaomi A1 belum ketemu caranya walau pun mode USB-nya sudah di-set ke “audio source”. Sepertinya setting “audio source” di Android itu justru memasukkan suara ke hape ya? Bukan sebaliknya?

Opsi “media transfer” juga tidak bisa membuat suara dialihkan ke USB. Sempat coba Xiaomi A1 pakai kabel audio biasa masuk ke port auxillary-nya head unit tapi suaranya tidak bagus. Nanti kapan-kapan coba pakai Samsung A7.

Tapi yang pasti dengan setup RPi Zero + DVB TV HAT + iPad sudah mencukupi bagi saya. Suasana perjalanan jadi lebih menyenangkan. Tantangan berikutnya adalah jika setup ini dibawa perjalanan jauh antar kota. Pasti jadi berantakan secara frekuensi siaran digital bisa berbeda di setiap region.

Setup DVB TV uHAT di Raspberry Pi

Sebenarnya pemerintah sudah memaksa para penyiar TV itu untuk melakukan siaran digital terestrial. Dan batas waktu untuk memindahkan siaran analog ke digital seharusnya berakhir di akhir tahun 2018. Siaran digital terestrial ini tentu sangat menguntungkan bagi masyarakat karena akan mendapatkan siaran TV yang sangat jernih di samping adanya informasi tambahan yang bisa didapat (seperti EPG, electronic program guide).

Tapi sepertinya belum semua penyiar serius menindaklanjutinya, terbukti masih banyak penyiar yang belum memiliki penyiaran digital yang stabil (bahkan ada yang mati, hanya bekerja baik di jam-jam tertentu), coverage sinyal belum merata, adanya tulisan “experimental”, dan lain-lain.

Saya menguji coba TV uHAT ini di Raspberry Pi 3B, mengikuti petunjuk di sini dan mencoba front-end webbased untuk konfigurasi. Ada beberapa hambatan memang. Berikut adalah beberapa catatan yang saya buat.

Raspberry Pi 3B + DVB TV uHAT

  1. Tidak ada preset muxes (frekuensi multiplexes) untuk Indonesia. Bisa kok menggunakan preset Default-Auto. Bisa juga menambahkan muxes secara manual.
  2. Sebelum melakukan scanning, edit semua muxes untuk menggunakan delivery system DVB-T2 dan bandwidth 8MHz. Baru kemudian lakukan force scan.
    Untuk mengedit sekaligus semua muxes, lakukan select all (ctrl+A) dan tekan tombol edit. Parameter yang mau diubah harus dicentang, masukkan nilainya, tekan tombol Save.
  3. Catatan tambahan, untuk mendapatkan Nexmedia, tambahkan muxes secara manual di frekuensi 290MHz, delivery system DVB-T2 dan bandwidth 7 MHz. Lakukan scan, maka akan muncul banyak services. Hanya saja hampir semua service terenkripsi, kecuali Nex SCTV. Kita cuma bisa nonton Nex SCTV.
  4. Kalau terdeteksi siaran, maka akan ditampilkan sebagai services.
  5. Setelah dapat beberapa services, lakukan mapping supaya bisa tampil di end user.
  6. Memainkan langsung di Raspberry Pi yang dipasangi TV HAT bisa menggunakan VLC. Saya lebih suka Raspberry Pi digunakan sebagai server streaming saja. Untuk menontonnya bisa menggunakan Raspberry Pi yang lain, tablet/iPad, smartphone Android, atau dari Laptop/MacBook.
  7. Untuk streaming dibutuhkan koneksi yang cepat. Saya menggunakan koneksi tethering dari smartphone ternyata kadang lancar kadang lambat. Sepertinya karena banyak lalu lintas internet juga di jaringan tethering. Jadi kalau lagi penuh bisa bikin siaran nge-lag.
  8. Kalau siarannya putus-putus, maka banyak hal yang perlu diselidiki: mungkin memang siarannya jelek sinyalnya, muxes memang tidak bekerja, koneksi jaringan lambat (seperti saya yg menggunakan tethering), atau bisa jadi Raspberry Pi-nya terbebani.
  9. Kalau saya cek di Raspberry, untuk keperluan streaming tidak membutuhkan banyak processing CPU. Seringkali di bawah 10% penggunaan CPU. Tapi memang dibutuhkan jaringan yang cepat karena data yang di-streaming besar.

Baca selebihnya »