Backlight Keyboard Asus TUF FX505DD Tidak Menyala di Tombol Spasi

Saat install banyak hal di Asus TUF FX505DD mendadak saya tersadar kalau backlight keyboard di tombol spasi tidak menyala. Saya pun mengecek foto dan video saat pertama kali laptop ini dinyalakan. Ternyata memang tidak menyala backlight di tombol spasinya. Saya pun komplain ke supplier. Kata supplier backlight untuk spasi memang tidak menyala. Bahkan supplier sudah memvideokan laptop stok.

Kalau saya lihat di website resmi Asus TUF FX505 seri D (dengan prosesor AMD Ryzen 5/7) tampak bahwa backlight di spasi nyala. Coba teliti di website resminya: ASUS TUF Gaming FX505DD/DT/DU. Tuh kan nyala!?

Saya pun penasaran jadinya. Lalu saya pun melihat video beberapa review Asus TUF FX505DD dari beberapa reviewer/vlogger. Ternyata memang tidak nyala di unit yang mereka review. Berarti di seri FX505DD memang tidak menyala backlight di spasinya. Saya lihat di beberapa review di seri Intel juga tidak menyala. Tapi ada beberapa yang menyala. Jadi sepertinya tidak semua seri TUF ini nyala spasinya.

Sayangnya perihal nyala atau tidaknya ini tidak terdokumentasi dengan baik di website atau brosur Asus. Dan bahkan vendor tidak mengerti jelas masalah ini. Dan saya pun sempat khawatir apakah laptop yang saya beli ini ada cacat bawaan atau tidak. Syukurlah jika memang tidak menyala. Artinya laptop saya ini baik-baik saja.

Di bawah ini video backlight keyboard di laptop saya.

Bekerja Dengan Samsung ATIV Book 9 Lite

Sudah lebih dari 2 minggu saya menggunakan Samsung ATIV Book 9 Lite. Nampaknya kinerjanya kurang dibanding notebook saya sebelumnya, yaitu Acer V5-471G 53334G50Mabb. Jelas saja begitu karena spesifikasinya beda jauh walau pun secara harga ATIV Book 9 Lite lebih mahal. Seperti pada penggunaan prosesor AMD A6 1GHz di ATIV Book 9 Lite vs Intel Core i5 1.8GHz di Acer V5. Sedangkan RAM sama-sama DDR3 dengan kapasitas 4 GB.

CPU Utilization
CPU Utilization

Keunggulan dari ATIV Book 9 Lite adalah penggunaan media penyimpanan SSD yang walau pun kapasitasnya cuma 128 GB tetapi memiliki kecepatan yang jauh lebih baik dari pada harddisk biasa. Di samping tentu saja adanya fitur Touchscreen. Acer V5 sendiri juga mengeluarkan opsi layar Touchscreen. Sayangnya waktu itu kami tidak membeli V5 dengan fitur Touchscreen karena pertimbangan harga.

Saat saya gunakan untuk bekerja, ATIV Book 9 Lite ini memang lebih lambat. Saya mencoba menjadikannya sebagai server Apache, PHP dan MySQL. Browsing beberapa situs berita yang penuh dengan animasi, mendengarkan musik, membuka facebook, gmail dan webmail, skype dan download film. Puncaknya saat saya mengeksekusi aplikasi pembuatan laporan. Ternyata prosesor terforsir, kadang stat sampai 100% dan clock mencapai 1.4 GHz. Oh iya, prosesor AMD yang digunakan bisa bekerja sampai maksimal 1.4 GHz saat dibutuhkan. Sedangkan urusan penampilan grafis sedikit beruntung karena ada prosesor khusus, yaitu GPU AMD Radeon HD 8250 sehingga interaksi touchscreen dan tampilan bisa berjalan lancar.

Keunggulan lain yang bagi saya termasuk menyenangkan adalah karena baterainya tahan sampai lebih dari 5 jam. Bagi saya ini suatu kemewahan, karena selama 5 jam lebih bisa bebas bekerja dimana saja tanpa perlu tergantung dengan colokan listrik. Notebook saya sebelumnya maksimal 4 jam. Sedangkan Acer V5 cuma bertahan maksimal 2.5 jam. Memang sih, notebook-notebook sebelumnya fokus di performa, sedangkan yang ini saya khususkan untuk bekerja ringan dan ngeblog saja. Kalau mau kerja serius bisa pakai notebook yg lain, xixixi…

Peralatan tempur pekerja IT
Peralatan tempur pekerja IT

Sejatinya dengan spesifikasi ATIV Book 9 Lite ini sudah lebih dari cukup untuk pengguna biasa. Namun untuk programmer seperti saya atau pekerja multimedia mungkin termasuk kurang bertenaga. Sayangnya saya tidak mencobanya untuk bermain game. Mungkin lain waktu ya. Tapi untuk memainkan film resolusi tinggi lancar-lancar saja.

Membeli Tablet PC Atau Notebook?

Bagi para pekerja yang mobile, kini tersedia beberapa pilihan gadget mobile untuk menunjang pekerjaannya. Sebut saja Laptop/Notebook, Ultrabook atau Ultraportable Notebook, Tablet, atau piranti hybrid (bisa menjadi notebook atau tablet). Data statistik penjualan dunia malah menunjukkan bahwa penjualan PC (dan notebook) turun. Berbeda dengan penjualan Tablet yang melesat naik.

Namun bagi “power user” (seperti programmer, sistem administrator, dll), nampaknya peran notebook masih tidak tergantikan. Berbeda dengan Tablet, Notebook menawarkan kinerja yang lebih tinggi didukung beragamnya aplikasi pendukung untuk membantu produktivitas. Dan tentu saja karena notebook memiliki keyboard fisik.

Sedangkan Tablet awalnya didesain untuk kesenangan dan kerja-kerja ringan. Kinerja Tablet sampai sekarang masih di bawah notebook. Karena Tablet didesain dengan prosesor yang lebih mengedepankan penghematan daya yang mana biasanya berbanding terbalik dengan kinerjanya.

Hanya saja berdasarkan statistik memang menunjukkan bahwa penjualan Tablet melesat meninggalkan PC/notebook yang justru semakin menurun. Sehingga muncul anggapan kalau sekarang eranya Tablet dan akan segera menggantikan peran PC/Notebook.


{Contoh Ultrabook: Asus Zenbook UX21. Gambar diambil dari Wikipedia}

Syukurlah sekarang muncul generasi baru notebook yang menjembatani gap antara notebook biasa dengan Tablet, yaitu dengan hadirnya Ultrabook atau Ultraportable Notebook. Jika sebelumnya notebook memiliki berat di atas 2 kg, maka kini bertebaran pilihan notebook dengan berat di bawah 1,5 kg. Namun begitu performanya tetap tinggi, tidak kalah dengan notebook biasa. Plus, lebih hemat daya sehingga sekali charge bisa digunakan bekerja lebih dari 5 jam.

Lebih lanjut, kebanyakan ultrabook juga sudah dibekali dengan layar sentuh (touch screen) dengan kemampuan multi touch sehingga mampu mengenali gesture sentuhan penggunanya. Kalau sudah begitu, masihkah kita perlu membeli Tablet dimana semua keunggulannya sudah ada di Ultrabook?

Tentu saja semuanya kembali kepada kebutuhan kita. Karena walau pun telah muncul ultrabook yang lebih superior, ternyata Tablet masih memiliki segmennya sendiri, yaitu untuk kesenangan dan kepraktisan. Dimana kita bisa browsing, main game, mendengarkan musik atau menonton film dengan cara praktis dan mudah di mana saja. Sementara power user menikmati dunianya dengan Ultrabook.

Sebuah kuis menarik saya temukan di LiveOlive.com tentang pertimbangan membeli Tablet PC. Silakan simak di “Saya Ingin Membeli Tablet”.

Kalau masih bingung memilih, lebih baik pertimbangkan untuk membeli convertible/hybrid yang mana bisa berubah bentuk dari notebook ke tablet. Sayangnya piranti convertible/hybrid kebanyakan masih rendah kinerjanya atau malah terlalu berat bobotnya. Sementara itu membeli ultrabook dan juga tablet bukan pilihan yang bijaksana. Namun ternyata banyak juga yang melakukannya.

Beli Samsung Ativ Book 9 Lite

Tadinya saya tidak merekomendasikan Notebook Samsung Ativ Book 9 Lite ke seorang teman yang kebetulan mau membeli notebook namun bingung dengan sedemikian banyaknya pilihan. Saya tidak merekomendasikannya karena Ativ Book 9 Lite menggunakan prosesor yang tidak jelas. Samsung hanya mencantumkan penggunaan prosesor Quad Core tanpa merinci produksi mana, berapa kecepatannya, dan apa arsitekturnya. Namun yang jelas, prosesornya memiliki arsitektur x86 karena menggunakan Sisop MS Windows 8. Banyak literatur dari internet yang menuliskan kalau prosesornya buatan AMD.

Hingga beberapa minggu yang lalu saya jalan-jalan dan menjumpai langsung notebook ini. Ternyata bentuknya sangat tipis dan cukup ringan. Pantaslah kalau dia masuk ke golongan Ultrabook.

Yang cukup menarik hati adalah karena notebook ini sudah dibekali dengan layar sentuh dan media penyimpanan SSD. Benar-benar menggiurkan. Apalagi saat saya coba-coba, ternyata kinerjanya cukupan.

Hingga akhirnya tadi sore saya memutuskan untuk membelinya. Kebetulan saya mendapatkan harga awal yang belum naik. Di beberapa lapak sebelah sudah naik harganya antara 300-500 ribu. Tentu saja langsung saya sikat.

Setelah menebusnya, saya pun mengirimkan pesan ke teman saya tadi kalau saya telah membeli Samsung ATIV Book 9 Lite. Tentu saja pesan saya mengagetkan teman saya. Hahaha…

Acer V5 + Ubuntu = Gagal Shutdown

Sudah hampir 2 minggu saya menggunakan notebook Acer V5. Ada keanehan yang terjadi saat saya mengganti Sisop-nya dari Windows 8 ke Ubuntu 12.10, yaitu notebook akan selalu reboot ketika di-shutdown. (*notebook yg ngeyel*)

Sudah beberapa hari ini saya mencari solusinya di internet. Ternyata kejadian ini sering terjadi pada notebook generasi baru yang di-install Ubuntu 12, tidak hanya terjadi pada notebook Acer. Saya menemukan salah satu solusi yang mengharuskan menginstall laptop-mode-tools. Sejenak saya bergembira karena notebook bisa shutdown. Tapi setelah itu gagal dan selalu reboot lagi.

Baca selebihnya »