Dukung TRIDI (3D)

Dukung kami dalam acara “Pagelaran Kecubung 3 Warna.” Kami tetap bersemangat walau pun trilogi Negeri di Awan dinyatakan tidak lolos persyaratan. Dan kami akan mengirimkan trilogi baru bagi Anda semua. Dukung kami yaaa…

Psssst… trilogi baru kami ini lebih manusiawi dari pada trilogi sebelumnya yang dewani (hihihi). Nantikan penayangannya!!!

Negri di Awan : Kemana Angin Mengalir

Index Trilogy:
1) “Negri di Awan : Sidang Para Batara” (Dik nDaru)
2) “Negri di Awan : Kemana Angin Mengalir” (Dewo)
3) “Negri di Awan : Menuju Negri Impian” (Jeng Devi)

Ini misi yang maha penting, pikir Batara Siwa. Bagaimana pun Kanda Narayana benar. Bumi yang sudah berjalan 40.000 tahun ini tidak bisa serta merta di-reset. Dia mesti mencari sisik-melik dan mengumpulkan data penunjang supaya Sang Hyang Brahma bersedia menangguhkan kiamat.

Dikeluarkannya iPad dan mulai mengetikkan email berisi rencananya kepada para puteranya. Kepada Kartikeya yang menjabat dewa perang, dia memerintahkan untuk rehat sejenak supaya dalam beberapa hari research-nya ini dapat berjalan dengan baik tanpa ada peperangan. Karena rencananya menitis sebagai manusia menjadikannya sangat rentan jika ada peperangan. Juga untuk mendata motivasi di balik peperangan di dunia, berapa persen yang dimotivasi oleh rebutan sumber daya alam dan berapa besar dampaknya terhadap alam.

Kepada Ganesa yang menjabat dewa ilmu pengetahuan, dia memerintahkan untuk melakukan survey kepada seluruh penduduk dunia tentang kepedulian manusia terhadap alam. Juga melakukan research tentang perusakan alam yang disebabkan oleh ulah manusia. Kebetulan Ganesa mempunyai channel di seluruh universitas di penjuru dunia yang selalu siap sedia membantu setiap research yang digelarnya.

Kepada Batara Kala yang menjabat dewa waktu alias yang menentukan waktu hidup manusia, dia memerintahkan untuk mendata berapa banyak orang yang selama hidupnya merugikan alam dan berapa banyak yang hidupnya bergantung kepada alam dan memeliharanya dengan baik. Juga menghitung berapa banyak yang mati karena kualat terhadap alam. Dan berapa banyak manusia yang tidak berdosa yang mati karena bencana alam.

Setelah emailnya terkirim, Batara Siwa yang juga terkenal sebagai Batara Guru ini segera beranjak mengambil jaket dan helmnya. Dia segera bergegas menuju parkiran moge-mogenya yang memang terpisah dengan garasi mobil-mobil sport-nya. Dipandanginya sejenak motor Harley Davidson yang tidak pernah sekalipun dia tunggani. Terlalu boros bensin dan sangat berisik. Benar-benar tidak ramah lingkungan. Kalau pun dia punya HD, itu karena hadiah dari para dewa yang gemar piknik ke bumi untuk menghabiskan anggaran tahunan dan abadan. Demikian juga dengan semua mobil-mobil sport yang selalu membuatnya heran karena dinilainya tidak ramah lingkungan babar blas.

Baca selebihnya »