Ono-ono, Kawir-kawir, Tibo

Ini adalah tulisan daku yang “kedua” (+) di Politikana setelah “Nahkoda Kapal Bocor”. Sengaja kuarsip di sini. Link asli: “Ono-ono, Kawir-kawir, Tibo”

Beberapa waktu yang lalu, kurang lebih seminggu yang lalu, saya menjumpai singkatan yang cukup menarik di sebuah artikel di harian papan tengah negeri kita tercinta. Singkatan itu adalah: Ono-ono, Kawir-kawir, Tibo. Sayangnya saya lupa mencatat pengarangnya, judul artikelnya, dan nama koran tersebut. Maklum, cuma pinjem.

Sayangnya lagi, dalam artikel tersebut singkatan-singkatan unik tersebut hanya diartikan sebagai singkatan nama-nama capres dan cawapres hasil koalisi saja. Dan dalam tesisnya tidak diartikan lebih lanjut arti dari singkatan tersebut. Mungkin penulisnya sengaja melakukannya karena kebanyakan orang telah mengerti artinya.

Namun, dalam kesempatan ini, perkenankanlah saya secara semena-mena menggunakan singkatan tersebut dan mengartikannya secara harafiah. Karena sejatinya ketiga singkatan itu mempunyai makna dari bahasa aslinya, yaitu bahasa Jawa. Dan mungkin banyak yang belum mengerti apa maksud dari singkatan-singkatan ini.

Baca selebihnya »

Ikutan Berpolitikana

Daku pun ingin turut dapat berpartisipasi dalam hingar-bingar pesta politik demokrasi di negeri ini. Untuk itulah daku bergabung dengan Politikana. Bermula dari rekomendasi seorang sahabat maya yang sebenarnya dengan ogah-ogahan bin terpaksa daku pun menilik situs politikana. Awal mulanya biasa saja. Namun lama-kelamaan kok jadi semakin melekat dan akhirnya keranjingan. Makanya pepatah “tak kenal maka tak sayang” benar-benar mengena. Untuk itulah daku akhirnya turun ke kancah pesta demokrasi negeri ini di dunia maya.

Walau pun turun ke kancah politik di dunia maya, daku tidak memiliki ambisi apa pun. Tidak ada terbersit ambisi menjadi caleg, apalagi jadi presiden. Hayah, rasanya kok sangat tidak mungkin. Pembaca pasti tahu mengapa daku bisa sepesimistis seperti ini. Hahahaha…

Sejatinya daku memang tidak hobi di dunia politik. Membaca berita-beritanya pun sebenarnya ogah. Kalau akhirnya membaca dan terakhir menerjunkan diri dan menulis sesuatu di Politikana, itu tidak lebih karena geregetan saja.

Baca selebihnya »