Membuat Sensor IoT (Zero IoT)

Akhirnya jadi juga sebuah sensor IoT berbasis Raspberry Pi Zero W. Namanya adalah Zero IoT. Sebelumnya saya menggunakan Wemos D1 Mini. Tapi kurang praktis dan tidak fleksibel. Dan kebetulan ada teman yang memesan untuk menggunakan Raspberry Pi. Klop deh.

Sengaja memilih menggunakan Zero W karena bentuknya mungil, tidak perlu listrik banyak dan fleksibel. Bisa dimasukkan di casing yang ringkas. Di samping karena tidak perlu processing power sebesar Raspberry Pi 3B.

Jadi sistem Zero IoT ini ada 3 bagian, yaitu :

  1. Sensor IoT (sensoriot), menggunakan Raspberry Pi Zero dengan sensor DHT11, DHT21 atau DHT22. Menggunakan display LCD 1602 yang menampilkan tanggal dan jam, pembacaan suhu & kelembaban, suhu CPU, indikator pembacaan & pengiriman data, pesan-pesan error dan simbol alert jika pembacaan di luar nilai ambang yang ditentukan.
  2. Admin IoT (adminiot), sebuah program berbasis web dimana kita bisa mengeset nilai ambang untuk suhu dan kelembaban, menambahkan informasi lokasi sensor, dan setup untuk me-mention akun twitter Anda.
  3. Server IoT (serveriot), sebuah aplikasi server yang bertugas menyimpan data yang dikirim oleh sensoriot, mengirimkan tweet jika pembacaan sensor melebihi ambang batas, dll.

Seru juga sih membuatnya. Sebenarnya lebih cenderung bagaimana membuat sesuatu menjadi lebih tampak profesional. Ya memang sebelumnya saya membuat banyak hal tapi sekedar hobi, untuk keperluan pribadi, bukan untuk tujuan komersial atau profesional. Tapi kali ini mencoba membuat sesuatu yang sekiranya bisa lebih baik lagi. Baik dari segi penampilan, kelengkapan fitur, kepraktisan, dll. Siapa tau bisa dijual, hehehe…

TV Digital Mungil 3.5″ Dengan Raspberry Pi

Kalau tempo hari membahas pembelian DVB TV uHAT dan setupnya di Raspberry Pi, maka kali ini saya membahas tentang membuat TV yang mungil. Sebuah Raspberry Pi saya siapkan untuk menjadi media player khusus menampilkan streaming TV Digital dari Zero. Saya menggunakan sebuah display LCD TFT 3.5″ HDMI dari Kedei. Ini sebuah display yang sudah saya beli sejak April 2018 tapi jarang sekali saya pakai.

Kali ini saya coba gunakan display mungil ini untuk menampilkan streaming TV Digital dari Raspberry Pi Zero W yang menggunakan DVB TV uHAT. Berikut adalah contoh videonya:

Lucu ya? TV yang mungil tapi masih cukup jelas menampilkan gambar. Inilah enaknya TV Digital, bisa jernih sekali gambarnya.

Kalau orang-orang kian hari TV-nya semakin besar, kalau saya malah mengecil. Saya mah gitu orangnya, hahaha…

Membeli DVB TV µHAT untuk Raspberry Pi

Begitu tahu ada sebuah HAT baru untuk Raspberry Pi, yaitu DVB TV µHAT, mata saya langsung berbinar-binar. Ini sebuah HAT untuk Raspberry Pi yang sangat menarik. Saya pun langsung memesannya di ModMyPi (karena sayangnya Pimori tidak menyediakan pengiriman ke Indonesia). Berikut adalah link untuk pembeliannya: Raspberry Pi TV HAT (DVB-T & DVB-T2 uHAT).

Berhubung dikirim langsung dari UK, maka HAT ini baru sampai setelah hampir sebulan. Benar-benar sebuah penantian yang melelahkan dan semakin menambah rasa penasaran. Tapi begitu sampai tidaklah kecewa! Ini benar-benar keren.

Mengapa saya sangat tertarik dengan µHAT ini? Bukankah ada STB (set top box) yang jauh lebih murah? Sebagai informasi, harga STB termurah saat ini adalah Rp 200ribu. Bandingkan jika harus beli µHAT + ongkir, Raspberry Pi (B atau Zero W), micro SDCard, power supply, jatuhnya bisa berkali lipat harganya. Ini dia alasan saya:

  1. Tentu saja karena saya penasaran dengan µHAT ini. Sebelumnya saya sudah mencoba membuat Radio Internet dengan CHIP, sampai-sampai saya membuat sendiri shield/HAT untuk CHIP (baca: Internet Radio). Tentu saja saya sangat penasaran apakah Raspberry Pi bisa dijadikan engine Smart TV!
  2. Saya punya beberapa Raspberry Pi 3B dan Zero yang siap dijadikan eksperimen. Ini akan menambah fungsionalitas Raspberry Pi itu sendiri.
  3. Saya sangat tertarik dengan konsep server streaming. Ini artinya saya bisa menonton TV digital dari piranti apa saja, misalnya di smartphone, tablet/ipad, laptop/macbook, termasuk di Raspberry Pi.
  4. Alasan berikutnya adalah karena saya tidak punya TV dengan kemampuan penerimaan siaran digital (DVB-T/T2). Namun saya ingin menikmati siaran digital yang jernih itu. Sedangkan membeli TV DVB rasanya tidak mungkin karena sudah tidak ada tempat lagi di apartemen. Kalau di rumah Semarang sih sudah ada TV Digital.

Saya sudah mencobanya seminggu ini. Dan hasilnya memang keren dan jernih. Bisa merekam siaran secara terjadwal juga. Detail akan saya ceritakan kemudian ya. Karena tulisan ini sebagai pengantar saja.

Di bawah ini sumber bacaan untuk memulai menggunakan DVB uHAT dan konfigurasinya.

Nantikan lanjutan ceritanya ya… Salam.

Raspberry Pi Zero W

Tempo hari senang dengar kabar kalau Raspberry Pi mengeluarkan versi baru, yaitu Raspberry Pi 3B+. Melihat peningkatan performanya dibanding versi 3B yang cukup berarti membuatnya menjadi opsi menarik bagi dunia pendidikan dan pengoprek. Karena jika dibandingkan PC biasa yang harganya jauh mahal, Raspberry Pi ini punya performa yang cukup untuk alat/media belajar. Dan lebih asyik lagi untuk ngoprek elektronika, dimana di sinilah keunggulan utama Raspberry Pi.

Tapi sebenarnya obsesi saya adalah memiliki Raspberry Pi Zero W. Kalau Zero versi sebelumnya tidak terlalu menarik bagi saya, Zero W ini justru menjadi magnet kuat yang menarik minat saya. Karena Zero W sudah memiliki modul Wireless (WiFi dan Bluetooth). Jadi sudah siap untuk dioprek.

Memang sih, Zero W ini performanya tidak lebih cepat dari pada tipe 3B (apalagi 3B+). Tapi bentuknya yang mungil itu membuat saya jatuh hati. Walau pun saya belum tau mau dibuat apa, saya pun membelinya via online. Kebetulan dapat diskon $4. Lumayan.

Oh iya, Raspberry Pi Zero ini sejatinya punya harga resmi $10. Tapi dimana ada toko menjual seharga itu selalu “out of stock” alias habis. Kebanyakan toko online menjual di atas $18.

Ada juga dijual Raspberry Pi Zero WH yang artinya sudah ada pin header-nya. Jadi kita tidak perlu menyolder header sendiri. Tapi berbeda dengan header Raspi 3B/3B+ yang tipe header-nya female, Zero WH menggunakan pin header male. (Ralat: Raspberry Pi menggunakan header male semua).

Dan Raspberry Pi Zero ini tiba di tangan saya pada hari Kamis Putih kemarin setelah beberapa minggu menunggu dengan harap-harap cemas, hehehe. Sampai sekarang belum sempat dioprek. Malah semalam ngoprek TouchRadio, hahaha…