Raspberry Pi Sebagai Alarm Musik di Pagi Hari

Sudah suatu hal yang lumrah jika saya menggunakan hape sebagai alarm di pagi hari untuk membangunkan diri ini. Tapi seperti sudah kebiasaan, biasanya alarm dari hape ini akan saya snooze dan kembali tidur. Saya masih ngantuk dan lagian melakukan snooze itu semudah menggeser jempol di hape. Setelah beberapa kali snooze akhirnya saya pun kesiangan bangunnya, hahaha…

Saya perlu alarm yang lebih ribet sehingga untuk mematikannya perlu bangun dari tidur. Jadi saya membuat alarm dengan menggunakan Raspberry Pi. Caranya mudah kok. Cukup menambahkan 2 baris di cron job.

Pertama-tama pastikan output audio dipindah dari HDMI ke Analog. Hal ini perlu dilakukan supaya RPi tidak tergantung dengan TV. Namun demikian diperlukan Speaker Aktif untuk menyalurkan suara dari RPi. Untuk itu sambungkan jack dari speaker aktif ke port audio di Raspberry Pi.

Setelah itu edit file crontab dengan perintah:

sudo nano /etc/crontab

Tambahkan baris berikut ini di bagian terbawah crontab:

0  5    * * *   dewo    DISPLAY=0:0 cvlc /home/dewo/Musik; killall vlc
0  6    * * *   dewo    killall vlc

Perintah killall yang kedua untuk memastikan vlc harus mati satu jam kemudian. Jangan lupa copy file-file musik yang diinginkan ke folder /home/dewo/Musik. Oh iya, ganti “dewo” dengan username Anda sendiri.

Nah, di pagi hari saya akan terbangun ketika mendengarkan lagu-lagu metal yang saya simpan di folder Musik. Mematikannya akan rada ribet karena saya akan menyalakan tv, membuka terminal dan membunuh VLC. Saya harap saya tetap terbangun saat menjalankan prosedur mematikan alarm ini. Tapi ya kalau ngantuk banget bisa jadi tetap akan tidur lagi, hahaha…

Iklan

Baru : Raspberry Pi 4 dengan Harga Tetap $35

Kabar gembira bagi pengguna, pecinta, penggemar, hobbyist Raspberry Pi karena sekarang sudah tersedia Raspberry Pi 4 Model B. Model baru ini memiliki beberapa kelebihan dibanding versi 3B atau pun 3B+, yaitu meliputi:

  • CPU 1.5GHz quad-core 64-bit ARM Cortex-A72 dengan peningkatan kinerja sampai 3x
  • Pilihan RAM 1GB, 2GB atau 4GB dengan tipe LPDDR4 yang dapat meningkatkan bandwidth hingga 3x
  • Gigabit ethernet dengan kecepatan penuh
  • Dual-band 802.11ac wireless networking
  • Bluetooth 5.0
  • Dua port USB 3.0 yang lebih cepat dan masih ada dua port USB 2.0
  • Mendukung 2 monitor resolusi 4K sekaligus dengan disediakannya 2 port mini HDMI
  • VideoCore VI graphics, mendukung OpenGL ES 3.x
  • 4Kp60 hardware decode of HEVC video
  • Menggunakan konektor daya USB-C yang dapat menambah extra power dengan kemampuan penambahan aliran arus listrik 500mA sehingga secara total bisa memberikan downstream ke piranti USB full 1.2A

Dengan peningkatan-peningkatan di atas, RPi 4 tetap kompatibel dengan RPi versi sebelumnya. Walau pun peningkatan di atas termasuk luar biasa, namun RPi 4 tetap mempertahankan harga dasarnya tetap $35 untuk opsi 1 GB RAM. Sedangkan untuk opsi 2GB dan 4GB harganya $45 dan $55 yang mana masih terhitung sangat terjangkau.

Beberapa aksesoris juga sudah tersedia untuk dijual terpisah, yaitu:

  • Case Raspberry Pi 4 dengan lubang-lubang port yang sesuai dengan bentuk baru versi 4
  • Power Supply 5V 3A dengan konektor USB-C
  • Converter USB micro-B ke USB-C jika pengguna ingin mempertahankan power supply resmi model lama
  • Kabel micro HDMI
  • Desktop Kit yang terdiri dari Raspberry Pi 4 dengan RAM 4GB, case resmi, PSU resmi, mouse+keyboard resmi, sepasang kabel HDMI, buku panduan pemula dan pre-installed microSD 32GB

Opini Pribadi

Dengan peningkatan-peningkatan yang luar biasa ini namun dengan harga tetap rendah, kita harus mengapresiasi Yayasan Raspberry Pi setinggi-tingginya. Bagi saya yang pernah mengalami masa awal-awal komputer hingga kini sudah semakin canggih (dan semakin mahal), mendapatkan sebuah Raspberry Pi itu suatu berkah.

Namun di sisi lain, saya merasa Raspberry Pi ini cenderung semakin lebih desktop PC dari pada sebuah board untuk tinkering (ngoprek). Ya memang dari awal RPi ini adalah SBC (single board computer) yang bisa digunakan juga untuk tinkering seperti layaknya Arduino yang memang sejak awal adalah MCU (microcontroller unit).

Hanya saja sebenarnya saya berharap ada penambahan berikut ini di RPi4:

  • Penambahan jumlah GPIO sehingga kita bisa ngoprek RPi dan menyambungkannya ke lebih banyak piranti tanpa perlu menambahkan multiplexer
  • Penambahan fitur ADC sehingga kita bisa menambahkan sensor-sensor analog yang secara harga lebih murah dari pada sensor digital
  • Sebenarnya Raspberry Pi sudah memiliki PWM tapi hanya 1 pin sehingga alangkah lebih baik jika pin PWM atau DAC bisa ditambahkan
  • Proteksi arus berlebih dan korslet sehingga tidak merusak RPi4

Walau pun demikian, peningkatan2 yg ada di versi 4 ini sudah sangat luar biasa dan membuat para penggemar Raspberry Pi (termasuk saya) sangat bersemangat!

Sumber:
~ Raspberry Pi 4 on sale now from $35

Upgrade Head Unit Mobil dengan TV Digital

Mobil saya belum kekinian, tidak ada display LCD atau pun TV. Tadinya mau upgrade ke head unit yang sudah ada display LCD dan TV tapi ternyata mahal. Apalagi yang support TV Digital, harganya mahal banget Gan! Kalau maksa beli yang murahan takutnya malah kecewa, hahaha…

Jadi saya pun memutuskan mengadopsi Raspberry Pi Zero W + DVB TV Hat yang saya oprek tempo hari plus iPad sebagai display TV-nya. Berikut video-nya :

Tadinya saya mau memanfaatkan Raspberry Pi 3B ditambah LCD Display 3.5″ (lihat di sini) tapi ternyata display segitu kekecilan. Memang lebih baik pakai iPad yang 9.7″. Jelas lebih legaan. Ditambah iPad punya kemampuan dihubungkan ke head unit bawaan mobil untuk amplifikasinya. Dengan integrasi ke head unit mobil, suaranya jadi bagus dan keras.

Sebenarnya saya mau membuat setup ini permanen. Tapi ternyata Raspberry Pi perlu pasokan voltase yang stabil. Charger mobil saya seringkali tidak stabil sehingga membuat RPi kadang tidak mau nyala. Solusi sementara adalah dengan menghubungkan Raspberry Pi ke USB-nya head unit yang relatif lebih stabil. Tapi berarti output suara dari iPad tidak bisa masuk ke head unit.

Untuk mengatasi masalah stabilitas voltase ini ada 2 opsi, yaitu membeli charger mobil yang voltasenya stabil atau membuat sendiri regulator tegangan. Sepertinya opsi ke-2 lebih masuk akal.

Kemarin mencoba juga mengganti iPad dengan hape Samsung A7 yang display-nya walau pun lebih kecil tapi masih cukup nyaman. Sayangnya output audio dari A7 tidak bisa masuk ke headunit standard bawaan mobil. Kalau iPad dan iPhone suaranya bisa dikeluarkan via kabel lightning ke USB. Kalau Samsung A7 dan Xiaomi A1 belum ketemu caranya walau pun mode USB-nya sudah di-set ke “audio source”. Sepertinya setting “audio source” di Android itu justru memasukkan suara ke hape ya? Bukan sebaliknya?

Opsi “media transfer” juga tidak bisa membuat suara dialihkan ke USB. Sempat coba Xiaomi A1 pakai kabel audio biasa masuk ke port auxillary-nya head unit tapi suaranya tidak bagus. Nanti kapan-kapan coba pakai Samsung A7.

Tapi yang pasti dengan setup RPi Zero + DVB TV HAT + iPad sudah mencukupi bagi saya. Suasana perjalanan jadi lebih menyenangkan. Tantangan berikutnya adalah jika setup ini dibawa perjalanan jauh antar kota. Pasti jadi berantakan secara frekuensi siaran digital bisa berbeda di setiap region.

Membuat Sensor IoT (Zero IoT)

Akhirnya jadi juga sebuah sensor IoT berbasis Raspberry Pi Zero W. Namanya adalah Zero IoT. Sebelumnya saya menggunakan Wemos D1 Mini. Tapi kurang praktis dan tidak fleksibel. Dan kebetulan ada teman yang memesan untuk menggunakan Raspberry Pi. Klop deh.

Sengaja memilih menggunakan Zero W karena bentuknya mungil, tidak perlu listrik banyak dan fleksibel. Bisa dimasukkan di casing yang ringkas. Di samping karena tidak perlu processing power sebesar Raspberry Pi 3B.

Jadi sistem Zero IoT ini ada 3 bagian, yaitu :

  1. Sensor IoT (sensoriot), menggunakan Raspberry Pi Zero dengan sensor DHT11, DHT21 atau DHT22. Menggunakan display LCD 1602 yang menampilkan tanggal dan jam, pembacaan suhu & kelembaban, suhu CPU, indikator pembacaan & pengiriman data, pesan-pesan error dan simbol alert jika pembacaan di luar nilai ambang yang ditentukan.
  2. Admin IoT (adminiot), sebuah program berbasis web dimana kita bisa mengeset nilai ambang untuk suhu dan kelembaban, menambahkan informasi lokasi sensor, dan setup untuk me-mention akun twitter Anda.
  3. Server IoT (serveriot), sebuah aplikasi server yang bertugas menyimpan data yang dikirim oleh sensoriot, mengirimkan tweet jika pembacaan sensor melebihi ambang batas, dll.

Seru juga sih membuatnya. Sebenarnya lebih cenderung bagaimana membuat sesuatu menjadi lebih tampak profesional. Ya memang sebelumnya saya membuat banyak hal tapi sekedar hobi, untuk keperluan pribadi, bukan untuk tujuan komersial atau profesional. Tapi kali ini mencoba membuat sesuatu yang sekiranya bisa lebih baik lagi. Baik dari segi penampilan, kelengkapan fitur, kepraktisan, dll. Siapa tau bisa dijual, hehehe…

TV Digital Mungil 3.5″ Dengan Raspberry Pi

Kalau tempo hari membahas pembelian DVB TV uHAT dan setupnya di Raspberry Pi, maka kali ini saya membahas tentang membuat TV yang mungil. Sebuah Raspberry Pi saya siapkan untuk menjadi media player khusus menampilkan streaming TV Digital dari Zero. Saya menggunakan sebuah display LCD TFT 3.5″ HDMI dari Kedei. Ini sebuah display yang sudah saya beli sejak April 2018 tapi jarang sekali saya pakai.

Kali ini saya coba gunakan display mungil ini untuk menampilkan streaming TV Digital dari Raspberry Pi Zero W yang menggunakan DVB TV uHAT. Berikut adalah contoh videonya:

Lucu ya? TV yang mungil tapi masih cukup jelas menampilkan gambar. Inilah enaknya TV Digital, bisa jernih sekali gambarnya.

Kalau orang-orang kian hari TV-nya semakin besar, kalau saya malah mengecil. Saya mah gitu orangnya, hahaha…

Raspberry Pi Untuk Apa?

Kalau ada yang bertanya apa yang bisa dilakukan oleh Raspberry Pi? Untuk apa saja? Maka jawabnya akan banyak sekali. Raspberry Pi yang sering juga disebut sebagai SBC (single-board computer) itu seperti layaknya sebuah komputer, dia bisa melakukan banyak hal. Ditambah lagi fleksibilitas koneksinya yang seperti Arduino, menjadikannya bisa ditambahi piranti apa saja.

Mau dijadikan robot bisa, dijadikan drone bisa, dijadikan pengendali smarthome bisa, dijadikan server bisa, dijadikan face detection/recognition bisa, dan banyak lagi. Silakan google saja dengan keyword “Raspberry Pi projects”, maka akan ketemu banyak hal yang bisa dibuat dengan Raspberry Pi.

Kembali ke laptop… Kemarin ada teman jual Raspberry Pi 3B dengan harga murah. Langsung saja saya beli. Padahal saya sudah punya beberapa Raspi dan belum tahu mau dipakai apalagi. Makanya 2 paragraf di atas itu sejatinya pertanyaan buat saya sendiri, Raspi-nya mau dipakai apa lagi? Hahaha…

DWO_0261

Ini adalah beberapa Raspberry Pi yang saya miliki beserta peruntukannya:

  1. Raspberry Pi Original Model B. Ini Raspi pertama saya. Saat ini nganggur. Sudah saya tambahin LCD TFT dengan antar muka SPI.
  2. Raspberry Pi 3 Model B. Saya gunakan sebagai server IoT dengan alamat di http://zero-iot.com. Saat ini masih digunakan untuk penggunaan pribadi.
  3. Raspberry Pi Zero W. Digunakan sebagai sensor suhu dan kelembaban. Dalam waktu tidak lama akan meluncur ke teman yang memesannya.
  4. Raspberry Pi Zero W + DVB TV uHAT. Digunakan untuk server TVHeadEnd. Lihat posting saya sebelumnya di “Membeli DVB TV uHAT untuk Raspberry Pi” dan “Setup DVB TV uHAT di Raspberry Pi.”
  5. Raspberry Pi 3 Model B. Saya gunakan sebagai player untuk streaming dari TVHeadEnd sekaligus untuk kerja ringan mengelola server-server. Memang seringkali saya harus mengelola server di malam hari, terutama berkenaan dengan backup, replikasi dan setup yang seringkali butuh waktu lama. Jadi ketika proses saya tinggal tidur sambil berharap esok paginya proses telah selesai tanpa error.
  6. Raspberry Pi 3 Model B. Ini yang baru saya beli dari teman. Memang belum tahu kegunaannya untuk apa. Nanti cari ide dulu. Yang pasti sih saat ini saya jadikan cadangan. Oh iya, saya ada LCD HDMI khusus untuk Raspberry Pi. Tempo hari saya coba tapi karena terlalu kecil, cuma 3.5″, jadinya malah menyiksa mata karena kekecilan, hahaha…

Perkara SBC, sebenarnya saya juga punya CubieBoard versi 2 dan CHIP. Keduanya bagus kok. Tapi untuk fleksibilitas dan dukungan jelas Raspberry Pi lebih bisa diandalkan. Apalagi CHIP sudah tamat riwayatnya.

Selain Raspberry Pi yang sudah saya miliki, sebenarnya saya juga ingin mencoba Raspberry Pi 3 Model A+ dan OrangePi Zero. Tapi nanti sajalah kalau memang sudah ada rencana mau digunakan untuk apa. Mengenai OrangePi Zero sebenarnya bisa jadi alternatif lebih murah dibanding Raspi Zero W yang saat ini saya gunakan sebagai sensor IoT.

Saya tahu bahwa saya menggunakan Raspberry Pi bukan untuk hal-hal yang luar biasa. Pengen sih bisa menggunakannya untuk hal-hal yang luar biasa seperti untuk drone, robot, image/audio processor, smart home, video surveillance atau hal heboh lainnya. Tapi ya lagi-lagi masih terkendala budget dan waktu, hahaha…

Setup DVB TV uHAT di Raspberry Pi

Sebenarnya pemerintah sudah memaksa para penyiar TV itu untuk melakukan siaran digital terestrial. Dan batas waktu untuk memindahkan siaran analog ke digital seharusnya berakhir di akhir tahun 2018. Siaran digital terestrial ini tentu sangat menguntungkan bagi masyarakat karena akan mendapatkan siaran TV yang sangat jernih di samping adanya informasi tambahan yang bisa didapat (seperti EPG, electronic program guide).

Tapi sepertinya belum semua penyiar serius menindaklanjutinya, terbukti masih banyak penyiar yang belum memiliki penyiaran digital yang stabil (bahkan ada yang mati, hanya bekerja baik di jam-jam tertentu), coverage sinyal belum merata, adanya tulisan “experimental”, dan lain-lain.

Saya menguji coba TV uHAT ini di Raspberry Pi 3B, mengikuti petunjuk di sini dan mencoba front-end webbased untuk konfigurasi. Ada beberapa hambatan memang. Berikut adalah beberapa catatan yang saya buat.

Raspberry Pi 3B + DVB TV uHAT

  1. Tidak ada preset muxes (frekuensi multiplexes) untuk Indonesia. Bisa kok menggunakan preset Default-Auto. Bisa juga menambahkan muxes secara manual.
  2. Sebelum melakukan scanning, edit semua muxes untuk menggunakan delivery system DVB-T2 dan bandwidth 8MHz. Baru kemudian lakukan force scan.
    Untuk mengedit sekaligus semua muxes, lakukan select all (ctrl+A) dan tekan tombol edit. Parameter yang mau diubah harus dicentang, masukkan nilainya, tekan tombol Save.
  3. Catatan tambahan, untuk mendapatkan Nexmedia, tambahkan muxes secara manual di frekuensi 290MHz, delivery system DVB-T2 dan bandwidth 7 MHz. Lakukan scan, maka akan muncul banyak services. Hanya saja hampir semua service terenkripsi, kecuali Nex SCTV. Kita cuma bisa nonton Nex SCTV.
  4. Kalau terdeteksi siaran, maka akan ditampilkan sebagai services.
  5. Setelah dapat beberapa services, lakukan mapping supaya bisa tampil di end user.
  6. Memainkan langsung di Raspberry Pi yang dipasangi TV HAT bisa menggunakan VLC. Saya lebih suka Raspberry Pi digunakan sebagai server streaming saja. Untuk menontonnya bisa menggunakan Raspberry Pi yang lain, tablet/iPad, smartphone Android, atau dari Laptop/MacBook.
  7. Untuk streaming dibutuhkan koneksi yang cepat. Saya menggunakan koneksi tethering dari smartphone ternyata kadang lancar kadang lambat. Sepertinya karena banyak lalu lintas internet juga di jaringan tethering. Jadi kalau lagi penuh bisa bikin siaran nge-lag.
  8. Kalau siarannya putus-putus, maka banyak hal yang perlu diselidiki: mungkin memang siarannya jelek sinyalnya, muxes memang tidak bekerja, koneksi jaringan lambat (seperti saya yg menggunakan tethering), atau bisa jadi Raspberry Pi-nya terbebani.
  9. Kalau saya cek di Raspberry, untuk keperluan streaming tidak membutuhkan banyak processing CPU. Seringkali di bawah 10% penggunaan CPU. Tapi memang dibutuhkan jaringan yang cepat karena data yang di-streaming besar.

Baca selebihnya »