Wawancara Perokok

Saat melakukan rekrutmen, kadang ada situasi dimana saya terusik, yaitu saat mengetahui kalau si pelamar adalah perokok. Ya… saya terusik untuk mengetahui mengapa dia merokok. Biasanya di akhir wawancara jadinya saya malah memberi nasehat panjang-lebar tinggi-rendah luas-sempit tentang bahaya merokok.

Dari pengalaman mewawancarai para perokok, ternyata mereka merokok karena kebiasaan dan tidak ada alasan spesifik. Mungkin mereka memperhalus kata “kecanduan” menjadi “kebiasaan”. Para perokok ini mengaku biasa menghabiskan 1 bungkus rokok seharinya. Ironisnya tidak ada keinginan sama sekali untuk berhenti. Maka saya pun bilang kalau perokok akan berhenti merokok jika sudah sakit. Lalu mulailah ceramah saya tentang bahaya merokok dan dampak buruknya bagi orang-orang di sekitarnya. Dan saya tidak bosan-bosannya melakukan hal ini, xixixi…

Walau pun demikian, pada periode lalu kami merekrut seorang perokok. Untungnya dia tidak ada masalah dengan kesehatan. Syukurlah dia tahu diri dengan tidak merokok di lingkungan rumah sakit. Jadi kalau mau merokok, dia harus keluar lingkungan rumah sakit dulu dan kalau perlu ngumpet, xixixi…

Welcome New Programmers

Akhirnya setelah lama melalui proses rekrutmen, kami bisa mendapatkan tambahan tenaga programmer baru. Merekrut programmer itu tidaklah mudah, terutama karena bisnis utama kami adalah di bidang kesehatan. Sedangkan kebanyakan fresh graduate lebih memilih kerja di perusahaan murni IT atau yang perusahaannya ada di segitiga emas.

Pengalaman yang tidak mengenakkan adalah ketika para calon ini menolak datang untuk psikotest/wawancara hanya karena lokasi pemanggilan di Tangerang. Hiks… mungkin Tangerang tidak dianggap sebagai kota yang menjanjikan bagi karir IT mereka. Padahal Tangerang hanya sebagai basis IT Corp saja, kenyataannya kami harus bekerja di banyak kota termasuk luar Jawa.

Jadi ketika kami berhasil merekrut 2 orang tahun ini, rasanya sangat melegakan. Sayangnya tahun ini 2 orang resign. Jadi penambahan ini cuma sebagai pengganti. Hiks…

Sulitnya Mencari Programmer

Hallo Sobat, ini sekedar curhat dariku.

Ternyata merekrut programmer itu sulit ya? Meskipun sarjana lulusan IT itu melimpah ruah. Rupanya ada beberapa hal yang membuat proses rekrutmen ini menjadi sulit, yaitu:

1. Lulusan IT yang berminat menekuni dunia coding/programming sangat sedikit. Mungkin terlalu memusingkan ya?

2. Lokasi sangat menentukan minat mereka dalam melamar. Mungkin mereka lebih senang melamar ke perusahaan yang berlokasi di segitiga emas Jakarta. Mungkin mereka mengira kalau bekerja di segitiga emas selalu bergaji besar, padahal belum tentu loh! Banyak yang kami panggil untuk wawancara & psikotest, tapi karena mungkin lokasi di Tangerang, mereka memilih untuk tidak hadir.

3. Prasyarat lowongan pekerjaan terlalu tinggi? Bisa jadi iya, karena kami mensyaratkan minimal lulusan S1. Rupanya jenjang S1 menjadi kendala tersendiri karena banyak orang yg tidak lulus. Atau banyak juga yang mengambil jenjang D3 saja.

4. Test berjenjang. Kami memang cukup ketat dalam merekrut dan para pelamar harus melalui sejumlah test, dari wawancara awal, psikotest, test pemrograman, medical check up dan kemudian wawancara akhir. Sebenarnya kami telah berusaha untuk mempersingkat waktu yang diperlukan untuk proses ini menjadi hanya 2 hari. Tapi mungkin hal ini menjadi kendala bagi kebanyakan orang yang ingin hanya sehari saja menjalani proses rekrutmen. Terutama bagi mereka yang masih bekerja di tempat lain.

5. Iklan lowongan pekerjaan yang tidak menarik? Hahaha… ini seperti ketika kita melihat iklan di TV. Tentu kita malas melihat iklan yang buruk dan menyukai iklan yang bagus dan menarik. Iklan yang bagus dapat mendorong kita untuk membeli produk tsb. Demikian juga dengan iklan lowongan pekerjaan yang harus menarik juga. Mungkin perlu ada iming-iming menggiurkan? Bisa jadi bumerang, sih, hehehe…

Rupanya kita perlu melihat banyak sudut pandang untuk mensukseskan proses rekrutmen, dari target calon karyawan, dari dalam perusahaan sendiri, dari proses rekrutmen sampai ke pengiklanannya. Seringkali malah proses rekrutmen berhasil karena pembajakan SDM atau berdasarkan referensi dari orang terpercaya.

Bagaimana proses rekrutmen di perusahaan Anda?

~~~

Catatan: Ingin menjadi programmer handal? Jika iya, ada baiknya Anda bergabung bersama kami. Kunjungi iklannya di: SINI

Number of Children

Suatu ketika kami mendapati seorang pelamar yang pada CV-nya tertulis:

Number of Children : 2

Wah, padahal usianya masih 24 tahun. Tidak mengapa sih jika dia menikah muda. Tapi saat kami baca bahwa statusnya adalah single, maka tambah penasaranlah kami. Soalnya di pilihan status ada Single, Married, Divorce. Nah loh!

Akhirnya kami berkesimpulan bahwa dia salah tulis. Field “Number of children” mungkin dia pikir sebagai berapa anak dari ortu-nya. Terbukti dia menuliskan 1 adik di form saudara. Padahal seharusnya itu diisi dengan berapa jumlah anaknya. Hihihi…

Definisi Internet

Dalam suatu acara wawancara untuk rekrutmen.

Bos: “Apa arti internet?”

Baru: “Bla… bla… bla…”
(membuat definisi yang salah)

Bos: “Salah!”

Baru: “Lalu apa artinya?”
(merasa benar definisinya karena didapat dari dosennya)

Bos: “Indomie-Telor-Cornet”
(sambil mencoret nama testee dari daftarnya)

(* Menyedihkan rasanya jika lulusan TIK tidak bisa mendefinisikan internet dengan benar. *)