Keyboard Bluetooth Logitech K380

Ketika 8 bulan yang lalu (Agustus 2018) saya membeli iPad 6th 2018, saya sempat berpikir memberdayakannya lebih dari sekedar tablet biasa. Seperti kita tahu, tablet biasanya digunakan untuk konsumsi media (nonton video, baca-baca eBook, dll), bermedia sosial, browsing, email, dan sedikit menulis. Khusus untuk iPad 6th, Apple memulai dukungan Pencil-nya untuk iPad yang lebih murah. Sebelumnya Pencil hanya bisa digunakan di iPad Pro yang harganya jauh lebih mahal.

Memang saya sudah membeli Pencil versi 1 yang bisa digunakan di iPad 6th. Dan saya sudah mencoba belajar menggambar lagi. Di samping tentu saja mencoba membuat lagu di GarageBand.

Tapi saya masih ingin menggunakan iPad saya lebih dari pada itu, terutama untuk menunjang pekerjaan saya. Saya ingin membuat iPad saya bisa digunakan juga untuk mengadministrasi server-server, remote desktop, bahkan untuk coding. Bisakah?

Ternyata bisa teman-teman. Ada beberapa aplikasi yang saya install yang bisa membantu saya melakukan hal-hal tersebut. Namun ada tapinya… Yaitu tidak nyamannya keyboard virtual/touchscreen di layar. Bukan tidak nyaman sih, tapi ada 2 hal yang membuat saya tidak terlalu suka menggunakan keyboard touchscreen, yaitu:

  1. Mengkorupsi layar karena separo layarnya dipakai untuk keyboard virtual. Sisanya baru digunakan untuk tampilan aplikasi. Tentu tidak nyaman ya? Apalagi saya sudah terbiasa dengan setup dual monitor yang memiliki pandangan luas ke aplikasi, kode dan data.
  2. Mengetik di layar serasa tidak natural. Tidak ada feedback, tidak ada batasan antar karakter sehingga sering nyasar, dan tidak ada tombol shortcut seperti Ctrl, Alt, Del, Back, Function Key, dll. Padahal tombol-tombol itu sangat penting untuk administrasi server dan coding.

Sehingga akhirnya saya memutuskan membeli Keyboard Bluetooth dari Logitech, yaitu seri K380. Sebenarnya ada opsi seri K480 yang lebih besar dan punya beberapa fitur tambahan. Namun setelah lihat-lihat review positif tentang K380 dibanding K480 akhirnya saya memutuskan membeli K380.

Sebelumnya saya berpikir mau membeli converter Lightning-to-USB sehingga saya bisa menggunakan keyboard Logitech USB yang biasa saya pakai untuk Raspberry Pi. Namun setelah dipertimbangkan, kalau pakai cara ini jadinya malah tidak praktis dan tidak mudah untuk dibawa-bawa.

Pilihan saya atas Logitech K380 rupanya pilihan yang tepat. Pagi ini saya menerima paket ini dan langsung saya coba. Pairing ke iPad 6th dan MacBook Pro dapat berlangsung dengan mudah. Cukup tekan tombol #1 selama 3 detik, maka channel 1 siap pairing dengan iPad. Saya menggunakan channel #2 untuk koneksi ke MackBook Pro. Oh iya, K380 bisa terkoneksi ke 3 piranti. Untuk mengganti ke piranti tertentu tinggal klik tombol #1, #2 atau #3. Simpel banget.

Bentuk keyboard ini cukup mungil dan simpel. Tapi key-nya punya ukuran standar. Key-nya berbentuk bulat sehingga nampak lebih artistik. Walau pun key-nya ketika ditekan lebih senyap dibanding kebanyakan keyboard (bahkan lebih silent dibanding keyboard MacBook Pro saya yang menggunakan mekanisme butterfly), namun terasa lebih keras. Mungkin per-nya masih baru sehingga lebih keras. Tapi secara keseluruhan keyboard ini sangat nyaman digunakan.

Keyboard K380 ini juga bisa digunakan untuk mayoritas sistem operasi, mulai dari Windows, MacOS, iOS dan Android. Untuk MacOS dan iOS juga sudah disematkan label alternatif untuk tombol Command, Options dan Back. Ada juga tombol ke media player (play, fast forward, back dan volume), menu, pindah window, bahkan shortcut ke screen capture (fn + tab). Keren…

Satu hal yang menurut saya jadi kekurangan keyboard ini, yaitu tidak adanya tombol Home, Page Down, Page Up dan End. Mengakalinya harus menggunakan kombinasi antara Command + panah. Di beberapa aplikasi bisa menggunakan kombinasi Ctrl + panah. Ya memang sedikit repot kalau coding yang memerlukan navigasi ke kode dengan cepat. Tapi sepertinya tidak masalah jika sudah terbiasa menggunakan MacOS yang memang tidak menyediakan tombol Home, Page Down, Page Up dan End.

Sebagai kesimpulan, saya senang sekali menggunakan keyboard ini karena membuat iPad saya bisa digunakan sebagai piranti darurat untuk administrasi server dan coding ringan (web programming). Ini sangat berguna karena saya sering ke luar kota dan tentu saja tidak praktis jika harus membawa MacBook Pro atau Asus.

Sebagai catatan, posting ini saya tulis dengan K380 di iPad. Ternyata nyaman juga. Keyboard yang dipairing dengan iPad juga nyaris tanpa lag, apa yang diketikkan langsung tampil nyaris tanpa jeda. Jadi kepikiran mau beli mouse bluetooth sehingga iPad bisa benar-benar kayak PC. Atau upgrade ke iPad Pro yang lebih powerful ya? Hahaha…

Iklan

Smartfren Andromax-i

{ Ini bukan review profesional. Tulisan ini ditulis secara subyektif dari seorang pembeli produk. Tulisan dibuat secara independen tanpa pesan atau sokongan dari sponsor. }

Liburan panjang kemarin (28/12/2012) saya membeli ponsel Smartfren Andromax-i. Saya membelinya karena pertimbangan harga murah tapi spesifikasi ponsel bagus. Walau pun cuma berharga Rp 1.199.000 (resminya), ponsel ini sudah dibekali prosesor dual dengan kecepatan 1 GHz. Layarnya 4″ IPS. Ditambah fitur unggulan, yaitu dual SIM Card (CDMA + GSM). Langsung saja saya jabanin, hehehe…

Produk yang aslinya adalah Hisense AD683G ini merupakan pengembangan dari Hisense AD680 yang lebih dulu dikenal dengan nama Smartfren Andromax yang cukup mendapat sambutan luar biasa di Indonesia. Peningkatan yang mencolok dari pendahulunya adalah dipakainya prosesor dual core dan layar 4″ dengan resolusi lebih baik.

Sosok Smartfren Andromax-i
Sosok Smartfren Andromax-i

Uniknya, saya membelinya secara delivery. Saya mengontak perwakilan distributornya di Yogyakarta. Sudah gitu saya nawar, namanya juga usaha, hehehe… Ternyata bisa loh ditawar. Saya mendapatkan harga Rp 1.175.000 ditambah ongkos kirim Rp 5.000 karena saya di luar area Ring Road DIY. Jadi totalnya Rp 1.180.000 sudah termasuk nomer Smartfren. Tidak lupa saya minta nomer cantik.

Tampilan dari dekat
Tampilan dari dekat

Singkat kata, paginya paket Smartfren Andromax-i sudah berada di tangan saya lengkap dengan nomer cantik Smartfren. Cihuuy… Untuk spesifikasi lengkap dari ponsel “I Hate Slow” ini bisa dilihat di: Spesifikasi Andromax-i

Saya membeli yang warna putih. Sosoknya cukup menawan. Minimalis seperti halnya ponsel-ponsel dari merek terkenal. Walau pun demikian menurut saya sosoknya cukup manis ditunjang dimensinya yang tipis dan tidak terlampau besar, cukup di dalam genggaman tangan saya.

Lumayan tipis kan?
Lumayan tipis kan?

Baca selebihnya »

Review: Communicator Hemat LG KT610

Rupanya sudah hampir satu bulan ini daku menggunakan LG KT610 namun belum juga menuliskan sesuatu tentangnya. Sungguh benar-benar keterlaluan! Hehehe…

Namun berbeda dengan biasanya, daku kali ini tidak akan menuliskan sebuah review teknis, melainkan sebuah review ringan berdasarkan pengalaman selama sebulan bersama LG KT610. Toh review dan data teknis yang lengkap bisa dilihat di situs lain. Jadi ceritanya daku mau menuliskan sesuatu tentangnya dari sudut yang lebih personal.

Woke, mari kita lanjut dengan latar belakang mengapa daku rela membelinya.

gps_lg_kt610

Semuanya dimulai ketika liburan Natal dan Tahun Baru tiba. Daku pun berlibur ke Semarang. Tentu saja daku ingin ini benar-benar liburan sekaligus menunggu detik-detik kelahiran puteri kami. Ini berarti daku tidak ingin mengerjakan tugas-tugas kantor. Kalau pun mengerjakan tugas paling tidak daku harus bisa mengerjakannya dimana saja dan kapan saja. Maklum, selama liburan ini daku bakal ada dimana-mana, eh maksudnya bukannya daku ada banyak dan tercecer dimana-mana, namun bisa saja jam ini daku dimana dan semenit kemudian ada dimana. Pokoknya mobilitasnya tinggi deh.

Selain itu daku juga ingin tetap terkoneksi dengan internet. Entah itu untuk nge-blog, main game, email mau pun chatting. Tentu saja kriteria di atas, yaitu mobilitas tinggi tetap harus dijunjung tinggi. *Halah*

Baca selebihnya »

Review: Indosat 3G Broadband

Tulisan ini masuk ke dalam kategori Blogger’s Test & Review. Bagi vendor yang ingin me-review produknya dapat menghubungi Dewo (0819 3250 9003) atau Lina (0819 3250 9001).

Baru malam ini saya sempat menuliskan review koneksi Indosat 3G Broadband ini. Padahal saya sudah menggunakan koneksi nan gegas ini hampir seminggu.

Sebenarnya saya agak bingung dengan tulisan-tulisan yang tertera di paket Indosat 3G Broadband yang saya terima. Di paketnya tertera banyak sekali tulisan “3G”, tetapi di kartunya tertera “3.5G”. Lalu mana yang benar, 3G atau 3.5G?

Maklum, kedua istilah ini menunjukkan kecepatan yang berbeda. 3G dengan jaringan UMTS secara teoritis mampu menghantarkan data dengan kecepatan 384 Kbps, sedangkan 3.5G dengan jaringan HSDPA mampu menghantarkan data sampai 3.6 Mbps. Bahkan sekarang kecepatannya mampu mencapai 7.2 Mbps untuk download.

Nah, dari pada bingung, lebih baik kita coba saja kecepatannya secara langsung. Pengetesan kali ini masih mengandalkan pengukur kecepatan dari SpeedTest. Tetapi agak berbeda dengan test yang sudah-sudah, kali ini saya tidak menggunakan Ubuntu dengan K530, tetapi menggunakan Windows XP dengan Sony Ericsson G502 sebagai modemnya. Penggunaan G502 cukup tepat karena ponsel ini sudah dapat memanfaatkan jaringan HSDPA sehingga saya bisa mengetes kecepatan maksimal paket Indosat 3G Broadband.

Baca selebihnya »

Nge-Test Bandwidth Axis

Kali ini aku mencoba menggunakan alternatif koneksi berikutnya, yaitu menggunakan Axis yang memberikan penawaran menarik, yaitu jalur 3G (UMTS teoritis kecepatannya 384 kpbs) dengan biaya koneksi Rp 0.1/KB untuk 10 MB pertama (setiap hari) dan selanjutnya Rp 1/KB. Menarik baik bukan? (Sumber: Tarif Axis)

Mari kita bandingkan dengan Fren yang tempo hari sudah aku test 2x. Jika dibandingkan dengan Fren Prabayar yang tarifnya Rp 6/KB (atau Pascabayar Rp 2/KB), maka tawaran dari Axis ini benar-benar menggiurkan. Pantesan tempo hari pakai Fren pulsanya boros banget…

Sorenya aku membeli nomer Axis baru seharga Rp 8.000 dengan bonus pulsa 6.000. Hiks, padahal harga resminya Rp 6.000. Maklum, belinya di pinggir jalan. Itu pun bukan nomer cantik. Tidak lupa beli voucher pulsa Rp 20.000 buat tambahan nafas koneksi.

Baca selebihnya »