Reguler vs Express

Sebuah percakapan pagi hari di sebuah jasa pengiriman.

“Mau dikirimkan pake reguler atau express?”

“Kalau reguler berapa biayanya? Express berapa?”

“Kalau reguler 13.500. Sedangkan express 31.000.”

“Berapa lama sampainya?”

“Reguler 3 hari. Kalau express 1 hari.”

“Reguler saja deh. Tidak buru-buru kok.”

Keesokan harinya dapat telpon.

“Mas, paket sudah sampai.”

Padahal pake reguler loh. Ternyata sampainya 1 hari juga. Lalu buat apa pake paket express yang biayanya lebih mahal?

Tapi daku suka: kalau bisa cepat, kenapa diperlambat?

Pengalaman Mengirimkan Paket

Karena aktif juwalan, belakangan daku sering berinteraksi dengan jasa TIKI (titipan kilat). Walau pun namanya kilat, belum tentu cepat nyampenya. Kalau pun mau bener-bener yang kilat, kita kuti mesdu nambah duwit buwat ngambil opsi express. Jadi namanya kilat express, dong? Hihihi…

Ada beberapa catetan yg daku torehkan (hayah) selama menggunakan jasa TIKI ini.

a) Ya seperti yang sudah kutulis di atas, yaitu bahwa TIKI belum secepat kilat beneran. Kilatnya perlu dinaikkan menjadi express (kereta expres?) supaya paket bisa cepet nyampe.

b) Baik kilat mau pun kilat express ada batesnya jugak, yaitu jam pengambilan paket. Jadi misalnya daku mau ngeposin di salah satu cabang pada jam 12:00 namun ternyata jadwal pengambilan paket di cabang tersebut jam 11:00, ya mau ngga mau paket baru diambil esoknya barulah kemudiyan disortir dan dianter ke tujuwan. Syukurlah kadang ada cabang yang jadwal pengambilan paketnya lebih dari 1x sehari. Jadi harus bisa nyermati jam2 pengambilannya jugak.

c) Karena secepat kilat, kadang barang ngga nyampe tujuan. Atau sampe tujuan tapi rusak. Atau sampenya sebagiyan karena tercecer di jalan. Atau nyampenya kebablasen. Menanggulangin kasus-kasus kayak gini, makanya TIKI nawarin asuransi. Hem… prasaan malah jadi nggak meyakinkan ya? Hihihi…

Baca selebihnya »