Posted by: Emanuel Setio Dewo on: Desember 2, 2009
Kemarin Bro Adrian ulang tahun & dirayakan di rumah makan Bandar Djakarta di Alam Sutera, Serpong. Selamat ultah ya, Bro. Semoga tambah bijaksana dan sejahtera.
Seperti kita tahu, Bandar Djakarta adalah rumah makan sea food. Sesuatu yang harus kuhindari sebenarnya. Soalnya daku kan ada alergi. Namun karena makanannya sangat menggoda, maka lahap saja daku embat cumi goreng dan udang. Sedangkan kepitingnya aku skip saja. Maklum, makannya repot. Hahaha…
Tadinya sempat mikir-mikir mau ngembat udang. Namun aroma dan ukurannya yang besar benar-benar menggoda. Padahal daku alergi udang!
Makan sepotong dan menunggu beberapa saat. Tidak ada reaksi tubuh. Mungkin tidak masalah lagi dengan alergi. Soalnya pernah beberapa kali nekad makan udang dan tidak alergi. Kata teman yang penting jangan sampai kemakan kulit & kaki-kakinya. Karenanya daku pun ngembat satu lagi. Lalu satu lagi & satu lagi. Tidak terasa sudah beberapa udang masuk ke perut. *Jan, enak tenan…*
Pulang dari makan-makan tiba-tiba perut mules. Langsung deh dikeluarin isi perut. Wah, untungnya tidak bikin alergi, begitu pikirku.
Posted by: Emanuel Setio Dewo on: Desember 1, 2009
Seringkali membeli sesuatu bukanlah solusi yang G2 (baca: jitu). Apalagi jika apa yang akan dibeli itu dapat kita buat sendiri dan kadang jatuhnya lebih murah dari pada beli. Namun seperti yang sudah-sudah, memang akan lebih mudah jika membeli saja. Tinggal pilih dan bayar saja.
Namun sekali lagi, membeli seringkali bukanlah yang terbaik. Apalagi jika membuatnya menjadi salah satu hobi. Ambil contoh teman saya yang hobi memasak. Apa pun dia masak sendiri. Sudah sering bereksperimen resep sehingga bisa menghasilkan cita rasa yang enak.
Pernah suatu ketika doi agak kurang enak body sehingga kegiatan masak-memasaknya jadi terganggu. Dan rupanya doi kurang sreg jika harus membeli makanan jadi di restoran atau warung. Ada saja alasannya. Dari kurang hyginis sampai males kalau harus mampir dan membeli di restoran/warung.
Daku rasa kebanyakan dari kita juga memiliki pilihan untuk membeli atau membuat saja. Seperti daku yang mencoba membuat sendiri efek gitar. Pengennya sih bisa buat gitar sendiri. Untuk sementara membuat lagu sih sudah pernah. Membuat anak? Hehehe… sudah berhasil 2.
Jadi inget Pak Paijo yang hobi bereksperimen untuk membuat banyak inovasi, termasuk pembangkit listrik.
Posted by: Emanuel Setio Dewo on: November 30, 2009
Di balik kemewahan Terminal 3, ternyata terminal ini memiliki kelemahan. Kelemahan yang utama yaitu berkenaan dengan masalah hujan. Saat merasakan pertama kali mendarat di terminal 3 dulu, daku sudah merasakan bahwa suatu saat nanti daku pasti mengalami momen kehujanan saat mendarat di terminal 3 yang konon juga dipakai untuk penerbangan haji ini.
Dan benar, kemarin hujan turun saat kami mendarat di terminal 3. Patut disayangkan karena suasana mewah dan bersih terminal 3 tidak didukung fasilitas jembatan penyeberangan bagi penumpang yang akan naik ke pesawat atau turun dari pesawat. Syukurlah pihak pengelola sudah menyediakan bis yang menjemput penumpang walau pun tetap saja para penumpang sedikit kehujanan juga.
Oh iya, kelemahan terminal 3 yang dulu sempat kutulis, yaitu mengenai moda transportasi keluar dari bandara belakangan sudah baik, malah sangat baik. Sudah beberapa kali daku menikmati taxi top dengan harga resmi. Namun memang agak tersiksa juga karena sopirnya ugal-ugalan. Maklum jarak tempuhku termasuk singkat, tidak lebih dari 50 ribu biayanya. Mungkin inilah yang membuat sopir taxi dari perusahaan top pun menjadi ugal-ugalan. Walau pun begitu daku tetap cool dan memberikan tips cukup besar di luar biaya taxi + jasa bandara. Daku bisa memahami kejengkelan sang sopir saat mengantarkanku. Tapi sudah seharusnya kejengkelan dibalas dengan kebaikan tho? Hehehe…
Posted by: Emanuel Setio Dewo on: November 28, 2009
Kamis kemarin hampir saja berakhir dengan kekonyolan. Wah, rupanya daku masih seseorang yang konyol ya? Namun nyaris…
Ceritanya adalah saat daku mau pulang ke Semarang. Semuanya oke sampai tiba saatnya mau boarding tapi daku tidak menemukan boarding pass di sakuku. Padahal tadi sudah kukantongin setelah lapor petugas di ruang tunggu. Cek semua saku & tas tapi tidak kutemukan selembar kertas itu. Hiks…
Langsung saja daku lapor ke petugas di ruang tunggu keberangkatan. Untungnya daku masih menyimpan tiketnya. Berbekal itulah daku bisa mengurus hilangnya boarding pass-ku. Rupanya di bagian belakang tiket itu ada form boarding pass manual. Dari situlah akhirnya dibuatkan boarding pass secara manual.
Hore… hari ini tidak berakhir dengan kekonyolanku. Terima kasih Tuhan.
Posted by: Emanuel Setio Dewo on: November 28, 2009
Kamis kemarin daku banyak mengalami antrian. Hem… menyebalkan. Sudah begitu ada saja orang yang dengan seenaknya menyerobot.
1. Antrian klaim tiket pesawat.
2. Antrian masuk bandara.
3. Antrian pemeriksaan bandara.
4. Antrian check-in.
5. Antrian airport tax.
6. Antri beli roti. Ngga kalah panjang loh! Kehabisan yg capucino.
7. Antrian pemeriksaan ke-2 utk masuk ruang tunggu.
8. Antrian pemeriksaan tiket saat akan boarding.
9. Antri naik pesawat.
10. Antri turun pesawat.
11. Antri taxi bandara.
12. Antri tidur, hehehe… nunggu anak-anak tidur dulu.
13. Untung mimpinya nggak antri.
Benar-benar menyebalkan kan?
Posted by: Emanuel Setio Dewo on: November 25, 2009
Sobat-sobat,
Daku sedang mengikuti ajang CSA (Creative Solutions Award) yang digagas oleh Lintasarta. Dalam ajang ini daku membawakan ide Pemantauan Anak Sekolah Dengan Teknologi Selular. Nampaknya kita bisa memanfaatkan teknologi informasi sebesar-besarnya bagi kemajuan dunia pendidikan.
Mohon dukungannya dengan mengirimkan sms ke 9779 dengan isi: CSAIDEA <spasi> 2370.
Atau dapat pula langsung mengunjungi ide tersebut di: Pemantauan Anak Sekolah Dengan Teknologi Selular dan mengklik tombol Vote. Sebelum vote harus login dulu. Namun usah khawatir karena kita bisa login via akun facebook.
Terima kasih atas dukungannya. Semoga ide ini dapat bermanfaat. Salam.
Posted by: Emanuel Setio Dewo on: November 25, 2009
Akhirnya daku punya kesempatan meng-upgrade Ubuntu 9.10 yang berjejuluk Karmic Koala. Sejatinya versi 9.10 ini sudah tersedia untuk didownload tanggal 29 Oktober 2009. Dan daku pun sudah mendownloadnya. Namun belum ada kesempatan untuk menginstallnya.
Walau pun sudah mendownload ISO-nya, daku memutuskan melakukan upgrade saja. Di versi sebelumnya, daku sempat gagal melakukan upgrade dari 8.10 ke 9.04. Jadinya clean install deh. Namun kali ini daku mencoba melakukan upgrade saja yang lebih praktis. Kalau pun gagal, daku bisa mem-burn file ISO untuk kemudian clean install.
Sayangnya kemarin gagal saat upgrade. Nampaknya koneksi internet bermasalah sehingga upgrade-nya gagal. Namun pagi ini koneksi internet cukup bagus dan proses upgrade dapat berjalan dengan lancar.
Posted by: Emanuel Setio Dewo on: November 22, 2009
Kemarin (21/11/2009) daku diajak shooting oleh Lintasarta dalam rangka ajang CSA (Creative Solutions Award) yang sudah digelar sejak bulan Agustus yang lalu. Asyik juga bisa terlibat shooting soalnya daku yang ikut & aktif di periode 1 CSA kemudian tidak aktif lagi di periode selanjutnya masih diingat oleh LA. Hehehe… Terima kasih untuk Pak Budi Wiyono.
Shooting berlangsung dari jam 09 s/d 16. Tentu disela makan siang bersama di Pare’gu. Setelah makan shooting dilanjutkan. Kebetulan daku peserta CSA terakhir yang di-syuting. Syukurlah lancar. Habis syuting daku langsung pulang tanpa menunggu acara syuting selesai karena ada janji dengan teman.
Posted by: Emanuel Setio Dewo on: November 20, 2009
Malam ini daku dan Bro Yus mencoba membangkitkan kembali bangkai gitar elektrik Yamaha SE 211 yang telah lama terburai-burai. Kebetulan dengan kebaikan hatinya Bro Yus berhasil mencarikan baut pengganti yang hilang. Hore…

Namun merakitnya lagi bukanlah perkara yang mudah. Pertama tentu menyambungkan kembali neck dengan body-nya. Dilanjut menyolder kabel yang putus dari pickup ke switch dan socket. Kemudian merakit komponen elektronik tersebut ke pick guard. Barulah memasang pickup ke body. Rada sulit ngepasinnya. Sudah begitu bautnya sudah pada karatan. Kayaknya harus ganti.
Peninggalan