Yuk Main Tank Force: Pertempuran Tank 3D

Saya baru mulai main game Tank Force: Pertempuran Tank 3D belakangan ini walau pun sebenarnya game ini sudah rilis sejak 2017. Ya maklumlah, baru punya laptop gaming barusan, hehehe… Tapi sebenarnya game ini tidak terlalu membutuhkan spesifikasi hardware yang berat. Jadi tidak perlu laptop khusus gaming.

Di tokonya tidak disebutkan secara spesifik spesifikasi hardware, cuma dituliskan butuh memory 1 GB dan bisa berjalan di arsitektur ARM, x86 atau x64. Tidak disebutkan diperlukan kartu grafis khusus atau CPU dengan clock tertentu. Namun di Asus TUF FX505DD dapat berjalan baik dengan setting grafis tertinggi.

Yang saya suka dari game ini karena game play-nya mudah dipelajari dan memainkannya tidak butuh waktu lama. Jadi kalau kalah di suatu pertempuran ya tidak apa-apa, tinggal ikut pertempuran selanjutnya. Kalau menang ya tentu saja senang karena mendapat poin yang besar. Kalau naik pangkat dapat reward yang lumayan lah…

Upgrade tank juga mudah. Yang sulit adalah ngumpulin perak untuk upgrade tank karena harus ikut banyak perang untuk mengumpulkan perak supaya cukup. Eh ada opsi beli perak atau emas sih, tapi saya tidak mau keluarkan uang untuk membeli emas atau silver tersebut, hehehe…

Nah di bawah ini adalah rekaman salah satu peperangan di mana saya dapat menghancurkan 9 tank musuh. Rasanya puas banget, hahaha…

Baca selebihnya »

Iklan

Kembali Ke Microsoft Windows

Setelah bertahun-tahun menggunakan MacOS dan Ubuntu, akhirnya saya memutuskan menggunakan Windows 10 di Asus TUF FX505DD. Ya memang laptop ini sudah ada Windows bawaannya. Tapi sebelumnya saya meng-install Ubuntu di SSD dan selalu boot ke Ubuntu. Hanya saja, Ubuntu bermasalah di driver display-nya. Ketika menggunakan monitor external atau proyektor atau TV dengan kabel HDMI, maka Ubuntu akan gagal mengenali dan bahkan seringkali hang ketika kabel dicolokkan. Padahal sudah menurunkan desktop manager dengan menggunakan gdm.

Contohnya kemarin ketika presentasi, awalnya baik dengan proyektor bekerja dengan baik. Namun ketika harus bergantian presentasi dan kemudian balik lagi saya harus presentasi, laptop langsung hang. Tidak bisa diapa-apakan walau pun sudah tekan Ctrl+Alt+Del atau Ctrl+Alt+Backspace. Terpaksa hard reset dan boot ke Windows untuk presentasi lagi.

Jadi Ubuntu masih bermasalah dengan kartu NVidia atau malah dengan AMD Ryzen + Vega? Entahlah. Tapi cukup mengganggu bagi saya yang sering presentasi atau menggunakan monitor external.

Sedangkan jika boot ke Windows dari harddisk itu sangat menyebalkan. Amat sangat lambat.

Akhirnya saya memutuskan meng-install ulang NVMe dengan Windows 10. Eh bukan install ulang, tapi menyalin Windows di harddisk ke NVMe. Untuk menyalin image Windows dari harddisk ke NVMe ini diperlukan aplikasi bernama EaseUS Todo Backup Free. Sejatinya ada versi berbayarnya, tapi kita bisa meng-install versi free-nya. Bagusnya adalah ada fitur “System Clone” yang cukup pandai sehingga walau pun storage tujuan lebih kecil, tapi EaseUS bisa mengaturnya dengan baik. Jadi walau pun harddisk saya 1TB sedangkan SSD NVMe hanya 256GB, namun karena isi harddisk hanya beberapa puluh giga byte, maka cloning bisa dilakukan dengan aman. Bahkan NVMe bisa langsung dipergunakan sebagai boot drive.

Walau kembali ke Windows, namun saya masih memerlukan Ubuntu untuk banyak hal yang berkenaan dengan pekerjaan. Jadi saya meng-install VirtualBox dengan VM Ubuntu 19.04. Bukan solusi yang efisien sih. Tapi efektif untuk pekerjaan saya.

Masalah berikutnya muncul. Yaitu ketika menyadari bahwa font di Windows tidak sebagus MacOS atau bahkan Ubuntu. Setting font clear type tidak membantu, tetap kurang nyaman. Jadi males kerjanya, hahaha… Apalagi kan saya memang akan banyak coding yang berarti akan sering berhadapan dengan banyak code/text.

Syukurlah menemukan program MacType yang bisa membuat font di Windows jadi seindah MacOS/Ubuntu. Syukurlah gratis juga. Saya memang paling suka yang gratisan dan halal, hahaha…

Jadi terima kasih untuk program EaseUS Todo Backup Free dan MacType.

Upgrade Asus TUF FX505DD Tahap 2

Asus dengan seri TUF FX505DD berhasil membuat saya penasaran dengan kemampuan upgrade di laptop-nya. Setelah beberapa hari menunda upgrade tahap 2 dengan pertimbangan seberapa perlu saya harus meng-upgrade RAM-nya, akhirnya saya nekad juga untuk meng-upgrade-nya.

Hari ini paket RAM PC4-2666V dari V-Gen dengan kapasitas 16GB mendarat di kantor. Kebetulan saya mendapatkan RAM ini dengan chip yang sama dengan RAM 8GB bawaan laptop, yaitu SK hynix. Jadi seharusnya tidak ada masalah kompatibilitas. Beda kapasitas tidak masalah. Yang penting bisa jadi dual channel.

Dan ternyata benar, ketika dipasang langsung dikenali dengan baik oleh BIOS dan selama beberapa saat saya pakai tidak ada masalah. Tidak ada hang karena masalah incompatibility. Aman.

Dengan terpenuhinya 2 slot RAM di TUF FX505DD ini berarti prosesor AMD Ryzen 5 3550H dapat bekerja secara optimal karena dapat memanfaatkan dua channel RAM. Dan ternyata yang saya rasakan memang lebih cepat. Loading beberapa aplikasi serasa lebih cepat. Dan perpindahan antar aplikasi dapat berlangsung lebih cepat.

Sayangnya saya tidak melakukan benchmark ketika RAM cuma 8GB dengan setelah di-upgrade menjadi dual channel 24GB. Tapi percaya saja deh, terasa perbedaannya. Ya walau pun tidak ilmiah, tapi saya merasakan perbedaannya, hehehe…

Jadi walau pun laptop ini bukanlah laptop dengan prosesor tercepat, namun jadi terasa gegas dan gesit. Lebih nyaman untuk dipakai bekerja. Apalagi untuk programming yang butuh cukup banyak resources.

Sayangnya ya kemampuan upgrade laptop Asus ini cuma di storage (SSD NVMe atau pun SATA) dan RAM. Dan ini sudah saya lakukan semua. Untunglah laptop ini tidak mampu di-upgrade prosesornya. Seandainya saja bisa upgrade, tentu saya bakal sulit tidur karena memendam rasa penasaran untuk upgrade, hahaha…

Membuat Radio Internet Dalam 5 Menit

Di apartemen dan kantor rada kesulitan kalau mendengarkan radio FM karena tidak dapat sinyal yang bagus. Kalau pun dapat pasti suaranya tidak bagus, kresek-kresek. Solusi paling mudah ya mendengarkan radio internet. Jelas lebih bagus suaranya. Kelemahannya ya karena harus terkoneksi ke internet. Tapi solusi ini mau tidak mau dilakukan kalau masih mau dengerin radio.

Untuk mendengarkan radio internet ini bisa dilakukan menggunakan VLC atau Rhythmbox (default player audio di Ubuntu). Tapi saya kurang suka menggunakan kedua player ini karena saya menganggapnya kurang praktis. Jadi saya menantang diri sendiri untuk membuat player html dalam 5 menit. Bisakah? Ternyata gampang banget kok membuatnya.

Kalau teman-teman mau membuatnya sendiri silakan menyalin code di bawah ini. Tapi kalau malas dan ingin segera mendengarkan radio internet, silakan kunjungi situs ini: Radio Zero.

Screenshot from 2019-08-02 16-25-15

Mohon maaf saya cuma menampilkan gambar code-nya karena saya kesulitan menuliskan kode html di wordpress. Tapi jika diinginkan bisa mengunjungi github di : Web-Radio (github).

Semoga bermanfaat.

Raspberry Pi Sebagai Alarm Musik di Pagi Hari

Sudah suatu hal yang lumrah jika saya menggunakan hape sebagai alarm di pagi hari untuk membangunkan diri ini. Tapi seperti sudah kebiasaan, biasanya alarm dari hape ini akan saya snooze dan kembali tidur. Saya masih ngantuk dan lagian melakukan snooze itu semudah menggeser jempol di hape. Setelah beberapa kali snooze akhirnya saya pun kesiangan bangunnya, hahaha…

Saya perlu alarm yang lebih ribet sehingga untuk mematikannya perlu bangun dari tidur. Jadi saya membuat alarm dengan menggunakan Raspberry Pi. Caranya mudah kok. Cukup menambahkan 2 baris di cron job.

Pertama-tama pastikan output audio dipindah dari HDMI ke Analog. Hal ini perlu dilakukan supaya RPi tidak tergantung dengan TV. Namun demikian diperlukan Speaker Aktif untuk menyalurkan suara dari RPi. Untuk itu sambungkan jack dari speaker aktif ke port audio di Raspberry Pi.

Setelah itu edit file crontab dengan perintah:

sudo nano /etc/crontab

Tambahkan baris berikut ini di bagian terbawah crontab:

0  5    * * *   dewo    DISPLAY=0:0 cvlc /home/dewo/Musik; killall vlc
0  6    * * *   dewo    killall vlc

Perintah killall yang kedua untuk memastikan vlc harus mati satu jam kemudian. Jangan lupa copy file-file musik yang diinginkan ke folder /home/dewo/Musik. Oh iya, ganti “dewo” dengan username Anda sendiri.

Nah, di pagi hari saya akan terbangun ketika mendengarkan lagu-lagu metal yang saya simpan di folder Musik. Mematikannya akan rada ribet karena saya akan menyalakan tv, membuka terminal dan membunuh VLC. Saya harap saya tetap terbangun saat menjalankan prosedur mematikan alarm ini. Tapi ya kalau ngantuk banget bisa jadi tetap akan tidur lagi, hahaha…

Memonitor Beban Kerja Laptop

Sebenarnya tulisan ini cuma iseng. Seolah ingin membenarkan keinginan saya untuk melakukan upgrade fase 2 (lihat tulisan sebelumnya tentang upgrade fase 1). Ya memang rada gatel juga sih pengen segera bisa upgrade fase 2, yaitu untuk menambah RAM di laptop Asus TUF Gaming FX505DD saya. Hanya saja setelah melihat di toko online ternyata harga RAM SO-DIMM DDR4 PC4 — 2666MHz itu ternyata mahal. Apalagi dari merek terkenal. Padahal sudah ngiler lihat yang 16GB.

Nah belakangan ini saya mencoba menahan diri dan menyelidiki apakah benar saya membutuhkan upgrade RAM ini? Sementara jari sudah tidak tahan menekan tombol “BELI”, hahaha…

Sebenarnya saya belum 100% menggunakan laptop TUF ini untuk bekerja karena untuk pekerjaan kantor saya masih menggunakan MacBook Pro. Tapi jika kelak dibutuhkan untuk ikutan kompetisi atau tiba-tiba kumat semangat ngopreknya, TUF ini harus siap menanggung beban kerja yang berat. Mungkin berlebihan ya? Tapi mungkin juga tidak, secara saya bakal banyak menggunakan VM (Virtual Machine) atau AVD (Android Virtual Device).

Rencananya dalam beberapa hari ke depan ini saya akan memonitor beban kerja laptop ini untuk beberapa tugas normal sampai ke yang berat. Untuk memonitor ini diperlukan beberapa program sehingga saya bisa melihat seberapa utilisasi laptop, apa saja yang berjalan di laptop sampai ke suhu laptop. Berikut ini adalah beberapa aplikasi yang sudah saya install:

  1. htop. Ini adalah sebuah aplikasi ringan berbasis teks yang dijalankan di terminal. Fungsinya untuk memantau utilisasi CPU, RAM dan SWAP. Terlihat pula daftar program yang sedang berjalan beserta informasi penggunaan CPU dan RAM oleh aplikasi ini. Sebenarnya tidak hanya itu, aplikasi ini sudah dibekali fitur mumpuni semacam pencarian task, membunuh task, dll. Tidak hanya simple tapi sangat powerful. Sayangnya itu belum cukup karena aplikasi ini tidak bisa memonitor suhu, storage dan network.
  2. System Monitor. Kalau ini adalah aplikasi bawaan dari Ubuntu Desktop. Karena tampilannya grafis, maka tampak lebih menyenangkan untuk dilihat. Fitur unggulannya adalah monitor CPU, Memori & Swap, serta jumlah dan kecepatan komunikasi data. Semua ditampilkan dalam bentuk grafis yang menyenangkan untuk dilihat. Di samping fitur utama ini ada fitur tambahan seperti monitor proses apa saja yang sedang berjalan dan file system. Cukup lengkap ya? Di samping tampilannya lebih nyaman untuk dilihat.
  3. S-tui (Stress Terminal UI). Saya baru menemukan aplikasi keren ini. Aplikasi ini seperti htop yang berjalan di terminal dalam mode teks. Walau pun demikian, saya merasa aplikasi ini layak diinstall untuk mendampingi htop dan System Monitor karena aplikasi ini mempunya fitur untuk memonitor frekuensi CPU, utilisasi CPU, dan yang terpenting bisa memonitor temperatur CPU. Aplikasi ini mencoba untuk menampilkan data ini dalam bentuk grafis tapi dalam mode teks. Jadi bisa berjalan tanpa terlalu membebani laptop secara berlebihan. Sayangnya saya agak curiga dengan “Top Freq” di mana di sini tertulis 2100 MHz padahal “Cur Freq” (current frequency) bisa saja melebihi Top Freq. Ya memang base clock Ryzen 5 3550H ini di 2100 MHz. Tapi maksimal frekuensi seharusnya bisa sampai 3700 MHz yang mana kalau saya lihat belum pernah mencapai frekuensi ini (baca: AMD Ryzen 5 3550H).

Saat ini baru 3 aplikasi ini yang saya install. Sepertinya sih sudah cukup untuk memonitor beban kerja laptop TUF ini. Saat monitoring ini saya menggunakan mode Performance di manajemen daya SlimBook. Pada mode Performance ini lebih sering terdengar kipas lebih kencang berputar dibandingkan mode Energy Saving, hehehe…

Sebenarnya untuk menjustifikasi perlu tidaknya upgrade RAM itu harus dilihat dari utilisasi RAM dan Swap ya? Apakah cukup atau tidak? Atau ada parameter lain?

Yang jelas untuk prosesor AMD Ryzen itu seharusnya dikonfigurasi untuk RAM dual channel supaya bisa keluar semua potensi performanya. Jadi tidak melulu tentang berapa jumlah kapasitasnya, tapi lebih cenderung ke dual channel-nya. Mungkin saya hanya perlu upgrade ke 4GB yang lebih murah untuk mengaktivasi dual channel-nya. Walau pun dalam hati saya merasa tanggung, apa tidak lebih baik sekalian ke 16GB? Hahaha…

Lagu Memburu Waktu

Di masa kini banyak orang yang hidup seperti selalu terburu-buru. Semua harus dilakukan dengan cepat seakan waktu tidak akan menunggu kita. Kini saatnya kita harus memburu waktu supaya kita dapat melakukan banyak hal (hal-hal yang baik tentu saja) di dalam waktu kita yang terbatas ini. Supaya hidup kita dapat bermanfaat bagi orang lain.

Kurang lebih itulah inspirasi dari lagu ini, yang berjudul “Memburu Waktu” (30/06/2019)