Profesi Baru: Paparazzi

Sejak aku punya Sony Ericsson K500i yg aku beli tahun kemarin, aku jadi rajin potret sana potret sini. Segala tingkah teman-temanku, baik yg lucu mau pun yg keren tidak lepas dari jepretanku. Sampai teman-teman menjuluki aku paparazi [nulisnya bener nggak sih?] alias tukang foto gelap/nekat. Di client pun aku potret sana potret sini dgn dalih: dokumentasi.

Di balik itu semua, sebenarnya aku ingin mengabadikan apa yang aku alami dan aku lihat. Soalnya aku nggak disiplin kalau harus nulis diary. Lagi pula walau pun program diary-nya keren banget, pasti aku cepet bosen nulisnya. Mbacanya juga males. Lain halnya jika semuanya aku abadikan dalam bentuk gambar. Bukankah gambar itu mengandung sejuta makna? Yg kadang tidak terungkap oleh kata-kata? Saat ini koleksi fotoku JPEG-ku sudah 300 MB. Tinggal tunggu 400 MB lagi sebelum aku burn ke CD.

Sampai sekarang, kalau aku kesepian, aku sering melihat-lihat lagi koleksi fotoku tersebut. Jadi sedikit terhibur, karena di saat yg sepi ini, aku jadi teringat pernah mengalami peristiwa-peristiwa yg mengasyikkan & meriah bersama keluarga dan sahabat-sahabatku. Buktinya bisa dilihat di foto-fotoku.

NB: Fotoku dgn anakku di sudut kiri atas adalah hasil jepretanku waktu liburan Natal 2004. Keren kan? [Awas kalo bilang: nggak!]

Iklan

Satu pemikiran pada “Profesi Baru: Paparazzi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.