Peperangan Abadi M$ vs Linux

Nampaknya peperangan antara M$ (Micro$oft) melawan GNU/Linux menjadi hal yang berkepanjangan dan tak berkesudahan. Dua pihak/platform ini berperang dengan segala cara demi untuk memenangkan pasar (baca: pengguna) mereka. Tidak hanya dari ke-2nya, para penggunanya yang fanatik pun turut gencar berperang. Terutama dari para pengguna fanatik Linux. Mereka ibarat para evangelist berusaha mengobarkan semangat penggunaan Linux dan OSS (open source software) tanpa dibayar. Tetapi bagaimana sikap saya sebagai orang sederhana ini menyikapi keruwetan ini?

Saya tidak berusaha memihak pada salah satu kubu. Kedua platform ini bagus, bahkan sangat bagus. Semuanya punya kelebihan dan punya kekurangan. Tidak dipungkiri bahwa seseorang merasa senang menggunakan yg satu, sedangkan yg lain lebih senang menggunakan yg kedua.

Saya juga tidak berusaha menengahi peperangan ini. Justru dari peperangan inilah akhirnya akan timbul inovasi baru dari keduanya. Masing-masing pihak akan semakin meningkatkan kualitas dan stabilitas produknya. Akhirnya yang untung adalah penggunanya. Salah satunya adalah saya.

Sayangnya banyak pengguna dari kedua belah pihak ini yang justru ikut nimbrung secara brutal dalam peperangan ini, terutama dari individu2 yg fanatik. Padahal mereka sendiri lebih banyak masih dalam tataran pengguna. Masih mending jika mereka memang expert di platform tersebut dan benar-benar menguasainya. Contoh fanatik dari produk-produk M$ misalnya: ReviewLand yang amat-sangat berat sebelah sampai-sampai menggunakan segala cara untuk mengintimidasi pengguna produk selain M$. Contoh fanatikan di Linux: www.pandu.org atau juga priyadi’s place. Bahkan priyadi terang-terangan menampilkan logo Kill Bill-nya. Syukurlah Priyadi yang mengaku membenci M$ justru karena masih memakainya ini menulis artikel yang berimbang tentang alasan untuk tidak memakai produk M$ dan alasan mengapa masih menggunakan produk M$. Contoh-contoh di sini memang seadanya waktu saya menukilnya, tetapi contoh-contoh lain masih sangat banyak terutama dari luar negeri.

Saran dari Orang Sederhana

Sebagai orang yang memiliki pemikiran sederhana, saya ingin menyarankan pada para evangelist/pejuang kedua belah pihak:

1) Anda boleh saja “menyarankan” orang lain menggunakan sebuah produk/platform. Tetapi sebaiknya tidak “memaksakan”-nya. Harap diperhatikan adanya faktor preferensi dari masing-masing individu. Ada orang yang suka memakai baju berwarna merah (contohnya saya), tetapi ada orang yang membenci baju warna merah. Saya merasa muak jika para evangelist/penjuang ini tidak hanya memaksakan produk yg dibelanya, tetapi juga berusaha “membunuh” produk yang lain dengan berbagai cara. Salah satu cara yang paling sering digunakan adalah FUD (fear, uncertainty, doubt) dan juga character assassination.

2) Karena kedua produk/platform ini tunduk pada standar internasional (atau standar de-facto), maka tidak usah khawatir/takut untuk menggunakan salah satu produk/platform. Pada akhirnya kedua produk ini tetap dapat saling “bekerja sama“. Kerja sama ini dapat terjalin karena mereka menggunakan protokol standar, misalnya TCP/IP, HTTP, FTP, dll. Contohnya saya yang menggunakan ke-2 platform ini dengan suka-cita.

3) Sudah menjadi trend jika para pengembang software membuat produknya dapat berjalan di kedua platform tersebut. Atau minimal mereka juga menyediakan alternatif produknya di versi platform yang lain (biasanya mereka punya versi pre-compiled untuk platform yang lain). Biasanya aplikasi yg dapat berjalan di kedua platform dibangun berbasis web (web-based application) yang netral (open platform) atau bisa juga dengan menyediakan Virtual Machine atau emulator sehingga dapat berjalan di kedua platform (cross platform). Contoh aplikasi berbasis web yang netral adalah Sisfo Kampus Open Source, sedangkan yang menggunakan Virtual Machine misalnya adalah Java dengan Java Virtual Machine (JVM).

4) Tampak dari #3 bahwa para vendor sekarang lebih bijak. Dari pada mati-matian membela salah satu platform, lebih baik mereka menyediakan aplikasi untuk masing-masing platform atau bahkan cross/open-platform. Karena dengan bisa jalan di banyak platform itu berarti pangsa pasar mereka semakin besar. So? Penggunanya juga lebih baik turut bijak.

Kesimpulan Sementara

Akhirnya dengan berusaha memahami beberapa alasan yang telah dikemukakan di atas, saya mengajak supaya kita lebih arif dalam memandang & mengamati peperangan abadi ini. Tetapi jika Anda memang sudah memutuskan untuk menjadi prajuritnya, silakan saja. Syukur-syukur Anda dibayar oleh mereka untuk turut memasarkannya atau bahkan berperang bagi mereka. Cuma: jangan sampai mati konyol.

Sebagai pengguna, sering kali kita memiliki pemikiran yang multi-dimensi yang pada akhirnya memutuskan untuk menggunakan salah satu platform. Tidak hanya dari dimensi harga, keterbukaan source code, keamanan, after sales service dan lain-lain tetapi juga dari dimensi: kesukaan (preferensi). Kalau saya suka pakai baju merah dan kebetulan kamu suka warna hijau dan kamu benci warna merah, ya jangan sewot dong!

Iklan

Tentang Emanuel Setio Dewo

Tumbuh, Berkembang, Berbuah...
Pos ini dipublikasikan di Open Source, Opini, Sisfo Kampus. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s