Bagaimana Remaja Autis Jatuh Cinta?

{Klipping ini diambil dari Koran WARTA KOTA hari Minggu, 25 April 2010. Semoga bermanfaat.}

Jatuh cinta milik semua orang. Anak autis pun mengalaminya. Hanya saja, ada perbedaan dalam cara mengekspresikan, tapi secara keseluruhan hampir sama.

Ratna Gurning (42) menceritakan anak laki-lakinya, Zepha (14) yang didiagnosa autis sejak berusia 3 tahun 2 bulan. Seperti remaja lainnya, Zepha juga mengalaminya perubahan fisik seperti perubahan suara, berjerawat, tumbuh bulu di sekujur tubuh mau pun kumis.

Namun secara mental, Zepha masih bertindak seperti anak-anak. Hal-hal pribadi seperti mandi atau buang air kecil masih tanpa malu-malu dilakukan tanpa menutup pintu atau tidak menjaga ruang pribadinya.

Walau pun perkembangan kemampuan sosialnya tampak tertinggal, namun Ratna melihat Zepha juga tertarik pada lawan jenisnya. Sikap yang dilakukan agak berbeda. SIkap yang dilakukan agak berbeda. Karena terlalu kentara tertarik dengan lawan jenis, anak itu seringkali menjadi bahan olok-olok teman-temannya.

Sikap yang dilakukan Zepha di antaranya mendekati secara langsung atau mengejar, berusaha mendekati secara agresif, selalu ingin dilihat oleh lawan jenisnya, memanggil-manggil setiap saat, keluar masuk kelas hanya untuk sekedar melirik ke kelas gadis yang ditaksirnya, dan mengecek posisi terakhir si gadis.

“Keluar masuk kelas untuk melihat gadis yang ditaksirnya kada bisa sampai 10 kali. Mungkin remaja lain akan malu atau berusaha menutup-nutupi jika sedang tertarik pada lawan jenisnya. Tapi Zepha tanpa malu-malu mendekati dan mengejutkan si target,” kata Ratna saat Expo peduli autisme, Sabtu (17/4).

Sebagai orangtua, Ratna dan suaminya Novem Gurning sepakat memberikan pengarahan dalam situasi ini. Walaupun agak menggelikan, namun Ratna mengambil hikmah dari kejadian tersebut. “Dibalik kejadian jatuh cinta, Zepha terjebak dalam kondisi harus bersosialisasi dan berinstitusi. Kami melihatnya sebagai sesuatu yang menggembirakan karena merupakan hal yang normal,” kata ibu rumah tangga yang pernah kerja di bank swasta selama 10 tahun ini.

Hal-hal yang perlu diutarakan kepada Zepha, menurut Ratna, antara lain dengan menjelaskan bahwa untuk melirik jangan terlalu agresif, tapi dari jauh saja. Begitu juga harus memperhatikan respons dari si gadis yang ditaksir. Juga bersikap tidak harus sama dengan gadis targetnya. Terpenting, peran ayah sangat vital untuk membesarkan hatinya. Terlebih ketika si gadis tidak menerima cinta Zepha.

Ratna beruntung suaminya mau terus berkomunikasi dengan Zepha untuk menghargai Zepha sebagai laki-laki dewasa pada umumnya. Pendekatan yang dilakukan juga dengan gaya komunikasi yang dewasa. Misalnya? “Iya papa juga dulu waktu SMP naksir cewek. Tapi papa lirik-lirik dari jauh saja,” kata Ratna memberikan contoh. Ketika Zepha harus menerima kenyataan gadis yang ditaksirnya tidak menerima cintanya, anak itu sudah bisa mengendalikan perasaannya dan bahkan sudah mulai mencari gadis lain.

Menurut Ita, peran ayah memang sangat besar untuk memberikan perhatian pada remaja autis. Termasuk dalam hal jatuh cinta, juga mimpi basah, atau yang berkaitan dengan sesual remaja. Ini juga berlaku pada anak yang tidak memiliki kebutuhan khusus. Jadi kenapa harus cemas? (lis)

Iklan

5 pemikiran pada “Bagaimana Remaja Autis Jatuh Cinta?

  1. Itulah pentingnya orang tua buat anak. Ayah mendampingi anak lakinya dan Ibu mendampingi anak perempuannya.

    Satu hal, anak-anak itu tumbuh sangat cepat tanpa kita sadari. So, luangkan banyak waktu buat anak-anak. Jangan sampai kelak kita menyesalinya, waktu gak kan bisa diulang kembali. GBU.

  2. Hmm.. artikel yang bagus.

    Menyikapi perilaku anak remaja memang susah-2 gampang.

    Intinya kalo kita orang tua mau menjadi teman bagi anak, itu sudah menjadi modal untuk keterbukaan anak-2 ke depannya.

    Jangankan untuk remaja yang autis, anak yg ga autis saja kadang menyulitkan.
    Tergantung sikap orang tua menyikapinya. Komunikasi amat penting di masa-2 mereka mencari identitas diri.

    Bukan kuantitas yg dibutuhkan dalam menjalin komunikasi dengan anak, tapi kualitas.
    Bicara beberapa menit dengan ramah, nasehat, pujian dan kasih yang amat dalam merupakan ungkapan kedekatan orang tua terhadap anak, ketimbang sepanjang hari bersama anak dengan komunikasi yang panjang namun tidak berbobot.

    Pengalaman pribadi nih, Mas.

    Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.